Apolonaris Mayan bilang, “dalam demo ini, bukan saja soal jagung dititi, tetapi nilai filosofisnya. Semangat juang, ketahanan, kesabaran, keuletan, kekompakan yang akan dan menjadi energi saat para ASN bekerja.”
“Pengabdian dan loyalitas kepada daerah datang juga dari semangat proses dalam titi jagung ini. Kita mau etos kerja para ASN semakin tinggi untuk pembangunan di Kabupaten Lembata,” kata Apol Mayan.
Saya keliling semua tenda OPD. Tempat para ASN ramai-ramai duduk titi jagung. Tik…tik…tok…tik…tik…tok. Pok…pok…pok. Bunyi tabrakan batu ceper lebar dan batu kecil lonjong bersahutan.
Tangan-tangan lembut itu sedikit terlihat kasar. Keringat mengalir deras. Bau asap. Asap api menyeruak ke wajah. Bedak, lipstik, dan minyak rambut melele -mengalir di pipi.
“Besok Minggu 12 Oktober, bertepatan dengan 26 tahun Kabupaten Lembata, kita luncurkan jagung titi 2000 kemasan ke pasaran,” kata Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq membuka aksi “Titi Jagung” ASN.
Jagung Titi kemasan yang diluncurkan merupakan hasil keuletan, ketekunan, kesabaran dari tangan-tangan terampil mama-mama di sudut kampung-kampung Lembata. Produk dalam kemasan ini diberi nama agak lagak, “Jagung Titi Baleo”.
Mata saya tetap lebih fokus lihat gerak lincah tangan dan mata Marta Urgoe dan Monika Tuto. Pingin lihat terus tradisi titi jagung dan budaya makan jagung titi dari generasi ke generasi.
Tidak saja. Tradisi dan budaya ini hanya pada masyarakat kecil di kampung-kampung pelosok dan penjuru Lembata saja. Seperti Mama Marta Urgoe dan Mama Monika Tuto di Desa Baolangu. Tapi semua kalangan dan elemen masyarakat Lamaholot, Lembata.*
Penulis: Wartawan dan Editor Florespos.net
Editor : Anton Harus










