LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menargetkan 10 ribu tenaga kerja akan bekerja di kawasan pariwisata terpadu Parapuar Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT).
Demi tercapainya mimpi tersebut, BPOLBF kini terus berupaya membangun kawasan pariwisata terpadu Parapuar Labuan Bajo Mabar, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Manakala sudah selesai dibangun, diproyeksikan Parapuar dapat memberi multiplier effect melalui penciptaan dan perluasan lapangan kerja dengan target penyerapan 10.000 tenaga kerja.
Dengan begitu, diharapkan pula ke depannya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di DPSP Labuan Bajo dan sekitarnya.
Salah satu langkah yang sedang dilakukan BPOLBF saat ini adalah menarik investor, baik lokal, nasional, maupun internasional untuk turut menjadi bagian dalam pengembangan kawasan Parapuar.
Frans Teguh, Plt. Direktur Utama BPOLBF menyampaikan bahwa BPOLBF terbuka untuk menjalin kerja sama dengan semua pihak, terutama dengan investor lokal.
Diungkapkan, BPOLBF diamanatkan untuk pengembangan pariwisata di DPSP Labuan Bajo melalui Perpres Nomor 32 Tahun 2018.
Badan ini juga memiliki tugas otoritatif untuk pengembangan kawasan pariwisata Parapuar. Parapuar adalah sebutan dalam bahasa Manggarai= pintu/gerbang menuju hutan .
Saat ini beberapa investor telah menandatangani MoU dengan BPOLBF, seperti Dusit Internasional dan Eiger Indonesia.
” Namun, tentu saja kami masih membuka peluang kerja sama dengan investor-investor lain yang memiliki visi dan misi yang sama, termasuk investor lokal” ungkap Frans Teguh.
Lanjutnya, secara keseluruhan, kawasan Parapuar akan dikembangkan dalam empat zona. Ke 4 zona dimaksud yakni Zona Budaya, Zona Santai, Zona Petualangan, dan Zona Alam Liar.
Keempat zona tersebut akan dikemas dengan Pendekatan Tata Ruang Budaya ” Gendang One, Lingko Pe’ang, sehingga keterlibatan investor lokal diharapkan akan semakin memaksimalkan pengembangan kawasan Parapuar.
” Keterlibatan investor lokal tentu sangat kami harapkan, karena pengembangan Parapuar sebagai destinasi yang menampilkan konteks inklusivitas, dan budaya sebagai basis nilai dan tonggak pengembangan tentu akan lebih terasa internalisasi nilainya, jika diinvestasikan oleh orang lokal sendiri,” jelas Frans Teguh.
Lebih lanjut, BPOLBF hingga saat ini masih terus membuka kesempatan bagi para investor untuk berinvestasi di Parapuar dengan visi dan misi yang sama, yaitu mengembangkan kawasan Pariwisata Labuan Bajo terintegrasi di Labuan Bajo yang berkualitas, berkelanjutan, berbudaya, dan menjunjung tinggi prinsip ekologi dan konservasi lingkungan. *
Penulis: Andre Durung/Editor:Anton Harus










