Buku, Pemahaman dan Tindakan Destruktif - FloresPos Net - Page 2

Buku, Pemahaman dan Tindakan Destruktif

- Jurnalis

Sabtu, 20 September 2025 - 15:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Dalam pendekatan sosiologis, karakter seseorang memang dibentuk oleh lingkungan. Namun, tanggung jawab hukum tidak bisa diturunkan kepada lingkungan secara otomatis.

Orang tua, guru, dan dosen adalah bagian dari proses pembentukan nilai, tetapi mereka bukan penentu tunggal tindakan individu. Menangkap mereka karena seseorang melakukan pelanggaran adalah bentuk reduksi moral yang tidak adil dan tidak logis.

Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Dalam bukunya Existentialism is a Humanism, Sartre menulis: “Man is nothing else but what he makes of himself.”

Artinya, meskipun manusia hidup dalam pengaruh lingkungan, ia tetap bertanggung jawab penuh atas tindakannya. Sartre menolak determinisme sosial yang menyalahkan lingkungan atau orang lain atas keputusan individu.

Baca Juga :  Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat

Dalam kerangka ini, menangkap orang tua, guru, atau dosen atas tindakan seseorang adalah bentuk pengingkaran terhadap kebebasan dan tanggung jawab moral individu.

Pemikiran ini juga diperkuat oleh Emile Durkheim, sosiolog klasik, yang menyatakan bahwa masyarakat memang membentuk norma, tetapi individu tetap memiliki kapasitas untuk menyimpang dan bertanggung jawab atas penyimpangannya.

Karena itu, pendekatan hukum yang menyamaratakan pengaruh sosial sebagai sebab langsung tindakan kriminal adalah bentuk simplifikasi yang berbahaya dan tidak adil secara etis maupun sosiologis.

Dalam kasus Sidoarjo, yang lebih mendesak adalah membedakan antara membaca sebagai proses intelektual dan tindakan sebagai ekspresi pilihan moral. Negara seharusnya mendorong literasi kritis, bukan mencurigai pembacaan sebagai ancaman.

Baca Juga :  Requiescat In Pace Paus Fransiskus, Selamat Datang Paus ke-267

Menyita buku bukan hanya tindakan represif, tetapi juga bentuk ketakutan terhadap wacana. Dan ketakutan terhadap wacana adalah ciri dari negara yang tidak percaya pada daya nalar warganya.

Jika aparat ingin menjelaskan fenomena ini secara jujur, mereka harus mengakui bahwa tindakan seseorang tidak bisa dijelaskan hanya dari apa yang ia baca, tetapi dari bagaimana ia menafsirkan, merespons, dan memilih bertindak. Dan dalam masyarakat demokratis, tanggung jawab moral tidak bisa digantikan oleh paranoia institusional terhadap ide.

Berita Terkait

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Berita ini 92 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:55 WITA

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WITA

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:49 WITA

Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Kunjungi SDN Wolomoni Ende, Wapres RI Bawa Pulang Sejumlah PR

Kamis, 18 Jun 2026 - 17:47 WITA