Menurut Romo Ferry Warman, tantangan pendidikan seminari saat ini semakin kompleks. Era digital telah mengubah cara generasi muda berpikir, berkomunikasi, dan berinteraksi.
“Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan konvensional semata. Spiritualitas ekaristi yang transformatif harus mampu berdialog dengan realitas digital, tanpa kehilangan esensi kekudusannya,” jelasnya.
Konsep “5S” yang menjadi fondasi buku Sanctitas, Scientia, Sanitas, Sapientia, dan Solidaritas menurutnya merupakan jawaban atas kebutuhan pembentukan holistik.
“Sanctitas tetap menjadi fondasi utama. Tanpa kekudusan, semua pencapaian akademis menjadi hampa. Namun kekudusan itu harus diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan (Scientia), kebijaksanaan (Sapientia), kesehatan fisik-mental (Sanitas), dan solidaritas kemanusiaan,” kata Praeses.
Romo Praeses mengapresiasi kontribusi 44 penulis yang telah menuangkan gagasan dalam 38 manuskrip.
“Keberagaman perspektif ini menunjukkan bahwa SANPIO tidak berjalan sendiri, tetapi bersama dengan para akademisi, praktisi, dan pemikir dari berbagai latar belakang,” katanya.
Program hidden curriculum yang akan mengintegrasikan setiap artikel dalam buku ini ke dalam seminar akademik bulanan siswa SMA seminari selama tiga tahun ke depan, menurut Romo Warman, merupakan inovasi pedagogis yang revolusioner.
“Kami tidak ingin buku ini menjadi pajangan di perpustakaan. Setiap bulan, siswa akan mendiskusikan satu artikel, sehingga dalam tiga tahun mereka akan menguasai seluruh konsep transformasi pendidikan ini,” ungkapnya.
Berbicara tentang visi 30 tahun ke depan menuju yubileum 100 tahun SANPIO, Romo Praeses menekankan pentingnya adaptabilitas tanpa kehilangan identitas.
“Dunia akan terus berubah, teknologi akan semakin canggih, tetapi nilai-nilai fundamental yang kita pegang kasih, kebenaran, keadilan harus tetap menjadi kompas,” tegasnya.
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando










