Prof. Salesman berharap bedah buku yang akan dimoderatori oleh RD. Ardus Tanis, S.S.Fil., S.Pd. dan dibedah oleh lima pakar terkemuka ini dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan model pendidikan yang lebih holistik, tidak hanya di lingkungan seminari tetapi juga di institusi pendidikan lainnya di NTT.
“Kolaborasi 44 penulis dalam 38 manuskrip ini mencerminkan kekayaan perspektif yang dibutuhkan untuk menjawab kompleksitas tantangan masa depan, termasuk dalam bidang kesehatan masyarakat,” kata Prof. Selesman.
Momentum Penting Transformasi Pendidikan Seminari
Sementara Dr Jonas K.G. D. Gobang, S.Fil., MA., Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere dan pakar komunikasi yang turut berkontribusi dalam buku “SANPIO Goes Synodal”, menyambut antusias penyelenggaraan seminar nasional bedah buku pada 6 September 2025.
Sebagai salah satu dari 44 kontributor dalam bunga rampai bersejarah ini, Dr. Gobang melihat acara tersebut sebagai momentum transformatif bagi dunia pendidikan seminari di Indonesia.
“Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan akademis, melainkan blueprint perubahan paradigma pendidikan seminari yang sangat relevan dengan tantangan zaman,” ujar Dr. Gobang.
Dalam kontribusinya yang membahas “Relevansi dan Signifikansi Keterampilan Komunikasi dalam Kehidupan Para Calon Imam”, Doktor Gery Gobang menekankan pentingnya mempersiapkan calon pemimpin Gereja yang tidak hanya memiliki spiritualitas mendalam, tetapi juga kemampuan komunikasi yang efektif.
Dr. Gobang mengapresiasi konsep “5S” yang menjadi tulang punggung buku setebal 770 halaman ini.
“Sanctitas, Scientia, Sanitas, Sapientia, dan Solidaritas bukan konsep yang berdiri sendiri, melainkan saling terkait erat. Dalam konteks komunikasi, kelima elemen ini harus terintegrasi untuk menghasilkan komunikator yang autentik dan transformatif,” jelasnya.
Sebagai akademisi yang telah lama berkecimpung dalam dunia komunikasi, Dr. Gobang melihat urgensi pengembangan keterampilan komunikasi bagi calon imam di era digital.
“Para calon imam harus mampu berkomunikasi dengan berbagai kalangan, dari anak-anak hingga dewasa, dari masyarakat tradisional hingga generasi milenial dan Gen-Z. Mereka harus menguasai komunikasi interpersonal, komunikasi massa, hingga komunikasi digital,” ungkapnya.
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando










