Mereka tak mau pusing dengan sedikit penjelasan ini. “Kita ini susah. Masih butuh banyak uang. Daerah miskin. PAD kita dibawah Rp 50 milyar. Kita hanya harap uang dari pusat. Beli mobil baru tidak benar dan tidak urgen. Perlu diusut mulai dari proses perencanaan anggaran sampai mobil itu ada di Flores Timur.” Tandas mereka sambil menutup diskusi kecil di Tanjung Eputobi dan pamit ke Larantuka.
Memang betul. Kita butuh banyak uang. Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat yang perekonomiannya sedang lemah, letih dan lesu. Untuk tangani bencana letusan Gunung Lewotobi Laki-laki mulai dari tanggap darurat, pemulihan ekonomi hingga rekonstruksi rumah dan lahan. Untuk bangun puluhan kilometer jalan yang masih rusak. Untuk tata Kota Larantuka yang kian semrawut ini. Dan masih banyak lagi.
Belakangan, saya dapat kabar dan selentingan–entah benar atau salah. Proses awal pembelian mobil dilakukan di ruang rapat antara DPRD Kabupaten Flores Timur periode 2019-2024 dan Pemda Flores Timur, masa Penjabat Bupati Doris Alexander Rihi.
Pengadaan mobil baru muncul saat perubahan APBD 2024 sekitar Agustus dan September—Saat itu, Gunung Lewotobi Laki-laki sudah meletus dahsyat pada Januari 2024 dan ribuan warga sudah mengungsi.
Perubahan anggaran (APBD) sempat molor karena saling gontok dan tarik menarik kepentingan Pemda melalui TAPD dan Tim Anggaran DPRD Flores Timur.
Editor : Anton Harus










