“Saya asli Manggarai. Sudah 30 tahun menetap di sini. Istri saya, asli orang Eputobi (Lewoingu).” Ucap Kraeng ke beberapa pengunjung lain yang istirahat sambil jajan dan ngopi di kedainya.
“Rumah saya di tengah kampung Lewoingu. Saya juga terima warga dari Hewa. Mereka mengungsi karena letusan Gunung Lewotobi Laki-laki,” kata Kraeng dalam bahasa Lamaholot. Dia sangat kuasai bahasa dan dialek Lamaholot.
“Kasihan…rumah mereka sudah rusak. Atap seng sudah tidak bisa lagi. Setiap hari hirup abu vulkanik. Sedih kalau dengar mereka cerita. Ini baru cerita mereka dari Hewa pak, belum lagi yang tinggal persis di bawah kaki gunung. Desa Dulipali, Desa Klatonlo, Desa Hokeng Jaya, dan Desa Nawokote.” Kata Kraeng sambil menengok mie instan di periuk. Pesanan kami dan pengunjung lain.
Tak berapa lama. Siang, 11 Desember 2024. Beberapa mobil tengah melintas cepat di tempat kami duduk. Mobil lux. Bodi mulus. Aroma pabrik masih tercium. Belum ada plat nomor polisi di bagian depan dan belakang. Pokoknya, masih sangat muluus dan aduhai.
“Itu mobil bagus. Model dan mereknya sama. Mobil siapa e bagus begitu?,” tanya salah satu pengunjung yang sama-sama istirahat di situ. “Mungkin itu mobil baru dibeli, yang lagi ramai dan menjadi pembicaraan orang Flores Timur,” tebak salah seorang lagi dari mereka.
Editor : Anton Harus










