“Selama gunung Lewotobi meletus ini, banyak sekali mobil baru yang lewat sini. Parkir dan jajan sambil minum kopi di kedai saya. Bisa saja bukan itu mobil baru yang dimaksud,” timpal penjual jajanan dan kopi asli Manggarai itu.
Beberapa pengunjung kedai jajanan dan kopi yang duduk dekat kami itu ternyata baru dari Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang. Mereka mengungsi mandiri di rumah keluarga di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Sekitar 40-an kilometer dari Boru.
Dua atau tiga hari sekali, mereka pasti ke Boru. Melihat rumah yang sudah lama ditinggalkan. Rapihkan seng yang bocor. Bersihkan rumah dari abu vulkanik dan belerang yang menempel tebal akibat letusan Gunung Lewotobi Laki-laki.
Soal mobil baru ini pun ternyata menjadi pembicaraan hangat di Tanjung Eputobi. Memang. Tahun anggaran 2024, Pemerintah Daerah (Pemda) dan DPRD Kabupaten Flores Timur periode 2019-2024 menganggarkan pembelian lima mobil baru. “Kok bisa? Kami lagi susah begini mereka bisa beli mobil baru,” serga salah seorang lelaki dari antara mereka.
“Ya bisalah. Supaya bisa keluar masuk jalan rusak seperti di Basira, Desa Patisirawalang. Badan tidak sakit karena jalan rusak. Sukucadang dan perbaikan pun tidak sulit dan tidak jauh-jauh keluar daerah. Bisa di Larantuka atau Maumere. BBM juga sangat irit, pakai solar,” kata salah seorang teman seperjalanan.
Editor : Anton Harus










