Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy) - FloresPos Net

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

- Jurnalis

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI antara lekuk gunung Papua yang menjulang angkuh, sebuah nyawa padam sebelum senja sempat menyapanya.

Roda kehidupan Aris Sanda, seorang putra Toraja yang merantau mengais rezeki, berhenti berputar di tanjakan Gunung Boy, dibungkam oleh desingan peluru yang tak mengenal belas kasihan.

Kisah ini jauh melampaui catatan darah di atas aspal. Ia adalah sebuah ratapan sunyi semesta yang kehilangan salah satu anak terbaiknya.

Baca Juga :  Fokus pada Pelayanan Publik: Mengatasi Kendala Kapal Nelayan Flores Timur demi Kesejahteraan Nelayan

Di persimpangan antara napas terakhir dan keabadian ini, kita diajak menunduk, merenungkan betapa rapuhnya denyut nadi manusia di hadapan badai kekerasan yang tak berperasaan.

Aris Sanda, pria berusia 45 tahun asal Lembang Tampan Bonga, Toraja Utara, dilaporkan tewas ditembak oleh kelompok bersenjata pada pertengahan September 2026.

Baca Juga :  Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Keluarga Dalam Praktik Pencegahan DBD di Mautapaga-Ende

Ia sedang menjalankan tugas mulianya mengemudikan kendaraan travel, membawa penumpang serta logistik warga melintasi jalur Trans Wamena–Nduga. Namun, upaya suci mencari nafkah itu direnggut paksa.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia dipaksa merekam video pengakuan politik, lalu kendaraan yang menjadi sumber kehidupannya dibakar hangus. Tindakan ini merupakan pengingkaran radikal terhadap martabat manusia.

Berita Terkait

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Kamis, 17 Sep 2026 - 11:01 WITA