Oleh: Pius Jemadu, S.Fil
KEMAJUAN teknologi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Informasi menjadi lebih mudah diakses, komunikasi semakin cepat, dan berbagai layanan dapat dinikmati hanya melalui telepon genggam.
Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, salah satunya adalah maraknya judi online dan berkembangnya budaya konsumtif yang sering dibungkus dengan istilah “healing”.
Fenomena ini layak menjadi perhatian karena tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga memengaruhi cara berpikir dan cara masyarakat menentukan prioritas hidup.
Di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok, banyak keluarga mengeluhkan sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga beras, minyak goreng, biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya terus menjadi beban. Keluhan tentang ekonomi menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Namun, di sisi lain, kita juga menyaksikan paradoks. Sebagian masyarakat yang mengaku kesulitan ekonomi masih menyisihkan uang untuk berjudi secara daring atau menghabiskan penghasilan demi gaya hidup yang sebenarnya bukan kebutuhan utama.
Judi online berkembang sangat cepat karena menawarkan ilusi memperoleh kekayaan tanpa kerja keras. Dengan modal yang relatif kecil, seseorang merasa memiliki peluang menjadi kaya dalam waktu singkat.
Padahal kenyataannya, sistem judi dirancang agar pemain lebih banyak mengalami kerugian daripada keuntungan. Banyak keluarga kehilangan tabungan, terjerat utang, bahkan mengalami keretakan rumah tangga akibat kecanduan judi online. Yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi juga kepercayaan, masa depan anak-anak, dan ketenangan hidup.
Di sisi lain, budaya “healing” yang pada awalnya dimaksudkan sebagai upaya menjaga kesehatan mental juga mengalami pergeseran makna. Beristirahat, berekreasi, dan menyegarkan pikiran merupakan kebutuhan manusia yang wajar.
Namun, ketika “healing” dimaknai sebagai keharusan mengikuti tren, mengunjungi tempat-tempat yang sedang viral, atau menghabiskan uang demi konten media sosial, maka yang terjadi bukan lagi pemulihan diri, melainkan konsumsi yang tidak terkendali. Tidak sedikit orang rela berutang atau mengabaikan kebutuhan pokok demi memenuhi gaya hidup yang dianggap dapat meningkatkan status sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata rendahnya pendapatan masyarakat, melainkan juga lemahnya kemampuan dalam menentukan skala prioritas. Kesejahteraan keluarga tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam mengelola pengeluaran.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










