Penghasilan yang terbatas akan semakin terasa kurang apabila sebagian digunakan untuk kebutuhan yang tidak mendesak atau bahkan aktivitas yang merugikan.
Media sosial turut memperkuat kecenderungan tersebut. Kehidupan yang tampak mewah, liburan yang menarik, dan kisah-kisah kemenangan besar dalam judi online sering kali ditampilkan tanpa memperlihatkan risiko, kegagalan, atau penderitaan di baliknya.
Akibatnya, masyarakat mudah terjebak dalam budaya perbandingan sosial. Mereka merasa harus memiliki gaya hidup yang sama agar tidak dianggap tertinggal. Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan kecil dari kenyataan.
Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan religius, kita perlu membangun kembali kesadaran bahwa uang adalah sarana, bukan tujuan hidup.
Penghasilan hendaknya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan anak, kesehatan, tabungan, dan investasi yang bermanfaat.
Rekreasi tetap penting sebagai bagian dari keseimbangan hidup, tetapi harus dilakukan sesuai kemampuan, bukan karena tekanan tren atau keinginan untuk memperoleh pengakuan di ruang digital.
Dalam perspektif iman Katolik, manusia dipanggil menjadi pengelola yang bijaksana atas berkat yang dipercayakan Allah. Kitab Suci mengingatkan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu” (Lukas 12:15).
Pesan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari perjudian, kemewahan, ataupun pencitraan, melainkan dari hidup yang sederhana, penuh syukur, dan bertanggung jawab.
Karena itu, upaya mengatasi judi online dan budaya konsumtif tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Yang tidak kalah penting adalah meningkatkan literasi keuangan, memperkuat pendidikan karakter, membangun budaya kerja keras, dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai pengaruh media digital.
Keluarga, sekolah, tokoh agama, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama untuk membentuk masyarakat yang mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara hiburan yang sehat dan perilaku yang merugikan.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










