Ikhtiar Menjaga Jiwa dan Merawat Semesta (Sebuah Sisipan Refleksi Filosofis-Pastoral Dies Natalis ke-35 Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende) - FloresPos Net

Ikhtiar Menjaga Jiwa dan Merawat Semesta (Sebuah Sisipan Refleksi Filosofis-Pastoral Dies Natalis ke-35 Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)

- Jurnalis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 08:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

SEKOLAH Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende didirikan pada tahun 1990 oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, Uskup Agung Ende saat itu. Ia lahir dari semangat Gereja lokal untuk menjawab kebutuhan pastoral umat di wilayah Nusa Tenggara Timur. Nama Atma Reksa yang berarti “penjaga jiwa”.

Sebuah nama yang bernuansa panggilan mendalam untuk merawat kehidupan manusia secara utuh: spiritual, sosial, dan ekologis. Ia hadir sebagai ruang formasi yang menyatu dengan realitas sosial, budaya, dan spiritual masyarakat setempat.

Sejak awal, STIPAR Ende menegaskan komitmen terhadap pelayanan yang berakar pada nilai injili dan kearifan lokal. Selama 35 tahun, lembaga ini menjadi ruang formasi bagi agen pastoral yang kompeten secara teologis dan peka terhadap realitas sosial.

Baca Juga :  Revitalisasi Bahasa di Era Modern: Kamus Bahasa Daerah Mbay Menjadi Cermin Melawan Lupa

Dalam konteks pluralisme Indonesia, STIPAR menjadi titik temu antara iman dan kebijaksanaan lokal. Spiritualitas yang dihayati selalu berdampingan dengan tanggung jawab sosial yang nyata.

Sebagai lembaga yang terus bertumbuh dalam dinamika zaman, STIPAR Ende tidak hanya menjaga warisan pendidikannya, tetapi juga berani membaca tanda-tanda zaman.

Tahun ini, 2025, lembaga ini genap usia 35 tahun. Perayaan Dies Natalis ke-35 yang dikemas dalam bingkai “Partisipasi Ekologis dan Sinodalitas” ini menjadi momentum penting untuk memperbarui visi dan misi kelembagaan agar tetap relevan dengan tantangan pastoral masa kini.

Dalam semangat pembaruan ini, tema besar yang diangkat bukan sekadar refleksi akademik, melainkan cerminan dari komitmen STIPAR untuk menjawab realitas dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung.

Baca Juga :  Misa Akbar Paus Fransiskus di GBK, Doa Umat Didaraskan Dalam Bahasa Manggarai

Pemilihan tema ekologi dan sinodalitas untuk Dies Natalis STIPAR ke-35 berakar dari kesadaran mendalam bahwa krisis ekologis yang melanda dunia saat ini bukan semata-mata persoalan lingkungan, melainkan juga krisis spiritual dan moral. Kerusakan alam mencerminkan keterputusan manusia dari nilai-nilai luhur yang menghubungkan kehidupan dengan ciptaan.

Dalam konteks ini, STIPAR memandang penting untuk menegaskan kembali tanggung jawab etis dan spiritual dalam merawat bumi sebagai rumah bersama, tempat berlangsungnya sejarah keselamatan dan perjumpaan antar makhluk.

Sinodalitas, sebagai semangat berjalan bersama, menjadi landasan untuk membangun komunitas yang saling mendengarkan, saling menghormati, dan terbuka terhadap keberagaman.

Berita Terkait

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila
Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:37 WITA

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:41 WITA

Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:45 WITA

Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Tim URC Burung Hantu Polres Ende Ungkap 7 Kasus Kejahatan

Rabu, 3 Jun 2026 - 16:02 WITA