Oleh: Steph Tupeng Witin
IVAN Illich adalah filsuf Austria, Pastor Katolik Roma dan pengkritik sosial yang tidak konvensional terhadap institusi budaya kontemporer Barat yang sangat memengaruhi praktik pendidikan, kedokteran, penggunaan energi, transportasi dan pembangunan ekonomi di dunia ketiga.
Kritik-kritiknya sangat radikal dalam dunia pendidikan yang mesti ramah terhadap anak-anak miskin. Illich juga mengkritik Gereja Katolik dengan segala “urusan birokrasi” yang kaku mesti direformasi. Kritik, betapa pun kerasnya, memiliki energi didaktik bagi peradaban sosial.
Kritik sesungguhnya perlawanan rasional terhadap dominasi “kekuatan privat” yang sering disuarakan oleh orang-orang yang kebetulan memiliki sepotong kuasa hanya untuk seolah-olah membenarkan pendapatnya di ruang publik.
Kritik menjadi peringatan bahwa ruang publik itu terbuka bagi semua orang untuk berekspresi, dan bukan milik segelintir elite yang kebetulan diberi “kuasa” lalu berbicara seolah paling benar. Suara-suara kaum kecil yang paling rentan menjadi korban selalu diabaikan.
Dalam kasus proyek geothermal di Atadei, Kabupaten Lembata, suara yang dianggap paling benar adalah suara General Manajer PLN, suara bagian pertanahan dan sertifikat, Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusa Tenggara I, Kelompok Kerja Pendamping Pengadaan Tanah PLTP Atadei, Donatus Boli Lajar dan belakangan, suara Bupati Lembata, Kanis Tuaq.
Orang-orang ini dengan sepotong kuasa tanda tangan di atas kertas tampak sangat berkuasa mengatur hak hidup dan ruang gerak rakyat di Atadei.
Tuhan dan leluhur Lewotana menghilang dari kepala dan dada mereka. Digantikan oleh uang, pilar yang dipasang persis pencuri di malam hari, sosialisasi sarat kebohongan dengan segala kelicikan ala mafia dan provokasi buruk untuk memecah keutuhan hidup warga.
Semua ini merupakan pekerjaan yang biasa dilakukan para kapitalis dan mafia pertambangan bersama antek-anteknya. Pendapat mereka yang mendukung proyek PLTP Atadei seolah kebenaran yang turun dari langit kebohongan.
Mengutip Ivan Illich, orang-orang ini sedang menghadirkan keburukan di tanah Atadei dengan merusak kebaikan alam dan lingkungan yang selama ini memangku, memeluk, merawat dan memberi makan kepada generasi lintas waktu.
Ada pejabat asal Atadei yang hidup dan diberi makan oleh tanah Atadei lalu sekarang getol “menjual” tanah tanpa nilai kepada PLN. Dia memiliki sepotong kuasa untuk merusak keutuhan alam, menghancurkan keseimbangan ekosistem dan memorakporandakan hidup segenap makhluk.










