Mungkin orang ini berpikir bahwa uang senilai triliunan pun bisa mengembalikan keberadaan tanah, pohon, mata air, sumber air panas, burung-burung, dan aneka satwa lain. Mungkin dia berpikir bahwa mata air panas Waikrata masih bisa didaur ulang lagi dengan uang yang dibayar PLN itu.
Alam yang sedang tidur jangan coba-coba dibangunkan hanya karena mata “terbelalak” pada lembaran fulus.
Kasus Mataloko, Ngada dan Mutubsa, Ende telah membuktikan bahwa alam yang “dibangunkan” oleh ketamakan akan menelan kehidupan tanpa ampun.
Orang Waiwejak, Desa Nubahaeraka saat ini sangat tertutup terhadap “suara berbeda” karena kesadaran mereka telah direcoki, dalam bahasa militer “dicuci otaknya” oleh kelompok pro geothermal tanpa ada ruang diskursus terbuka terkait dampak negatif.
Para pemilik tanah merasa begitu sangat berhak menjual tanahnya untuk dihancurkan proyek geothermal. Tanah yang suci, sakral dan sumber hidup kehilangan kesuciannya di hadapan tawaran uang dan janji manis ketua Pokja, PLN dan antek-anteknya.
Pertanyaan sederhana: ketika ada gas beracun yang akan muncrat dari sumber mata air panas, apakah zat beracun itu hanya mencari orang-orang yang telah menjual tanahnya kepada PLN dan pengurus Pokja?
Bukankah seluruh warga, terutama yang menolak geothermal dan bukan pemilik tanah akan mati keracunan? Maka seluruh rakyat, termasuk bukan pemilik tanah harus bangkit dari sikap bungkam dan diam untuk meminta pertanggungjawaban kehidupan.
Apakah kampung Waiwejak akan ditinggalkan hanya karena beberapa warga menjual tanahnya kepada PLN? Bahkan kampung-kampung sekitar Waiwejak akan mengalami dampak sangat buruk: kehancuran alam, air tercemar, mata air panas bisa muncul di dalam rumah, ruang hidup satwa hilang dan krisis kemanusiaan lain.
Diskursus tentang geothermal mesti bersifat terbuka. Pendapat yang disampaikan mesti seimbang antara pro dan kontra, antara positif dan negatif. Itu hanya mungkin kalau pembicaranya adalah orang independen.
Kalau Ketua Pokja yang omong, rem bolong lari ke pemerintah dan PLN. Kalau ada guru ASN yang sudah serahkan tanah dengan harga “murah meriah” dan Ketua Pokja “orang kita”, rakyat Waiwejak, Desa Nubahaeraka mesti ikut saja seperti kerbau dicocok hidung karena nanti mereka kehilangan jabatan. Mengapa? Karena tiap hari mereka beri makan warga dari gajinya.
Sosialisasi geothermal hanya omong tentang yang baik-baik, energi terbarukan, kepentingan lebih besar dan panjang, tanpa pernah singgung tentang dampak negatif: perusakan alam, pelubangan tanah, penghancuran kehidupan, gas beracun, hilangnya sumber mata air (panas), kematian pohon-pohon, hilangnya ruang hidup segenap makluk lain, retaknya relasi sosial, kekerabatan dan kekeluargaan dan masih banyak lainnya.










