Namun rekomendasi ini belum berjalan, pihak PLN mengabaikan proses atau tahapan sosialisasi dengan mengabaikan rekomendasi dari Penjabat Bupati Lembata terkait rencana menghadirkan pakar untuk menyosialisasikan UKL/UPL sesuai bidangnya dan juga menghadirkan para pakar di bidang geologi, geofisika, geokimia yang diminta oleh masyarakat Atakore.
Warga Atakore juga belum duduk bersama untuk menyamakan persepsi tentang kepemilikan Ina Kar/Dapur Alam, mengidentifikasi tanah hak ulayat dan membangun persepsi tentang Ahar Tu sesuai rekomendasikan Penjabat Bupati Lembata.
PLN diduga sangat kuat memaksakan keangkuhannya dan mengabaikan seluruh proses yang telah disepakati Bersama. PLN rupanya mengejar target dan hanya melakukan tipuan omong kosong dengan seminar.
Pihak PT PLN memaksakan kehendak untuk memulai proses pengeboran sumur geothermal di Atakore karena mayoritas warga Desa Atakore termasuk masyarakat yang memiliki tanah ulayat dekat lokasi Ina Kar menolak pengeboran geothermal.
Hal ini dibuktikan dengan hadirnya pihak PLN dengan membawa serta aparat keamanan yakni pihak TNI dan Polri pada 6 September 2024 yang kemudian diadang oleh Forum Pemuda Desa Atakore.
Tujuan kehadiran mereka adalah untuk mendata KTP/sertifikat kepemilikan tanah dan sebaliknya. PLN datang mendata dokumen dengan membawa aparat keamanan seolah-olah masyarakat Atakore sedang bertikai atau konflik. Cara-cara represip dan arogan model ini yang selalu digunakan PLN untuk menekan masyarakat agar masyarakat takut dan kemudian mengikuti kemauan buruknya.
Kita harus membantah dan melawan pernyataan Ketua Pokja, Donatus Boli Lajar bahwa warga menyerobot tanah yang telah dipasang pilar oleh PLN. Pernyataan Ketua Pokja ini merupakan penipuan dan pembohongan. Warga Atakore tahu bagaimana tipu muslihat PLN memasang pilar di lahan warga tanpa diketahui pemilik lahan. Ada Sebagian kecil menerima karena diperdaya oleh PLN dan Pokja dengan janji manis.
Warga pemilik lahan kemudian mencabut pilar yang ditanam PLN secara sembunyi-sembunyi, bahkan dengan memperdaya warga Atakore. Entahkah mereka yang diperdaya untuk tanam pilar itu dibayar berapa oleh PLN dan Pokja?
PLN dan Pokja telah berandil memprovokasi buruk untuk memecah keutuhan hidup warga. Maka sebenarnya, pihak mana yang menyerobot lahan warga? Warga meminta Donatus Boli Lajar agar bertindak jujur dan berkata benar. Tanah ulayat itu keramat dan suci. Itu sekadar peringatan awal sebelum lebih jauh melangkah dalam penipuan berantai lagi.
Upaya buruk PLN ini, termasuk Pokja yang diketuai Donatus Boli Lajar sudah terbaca oleh Forum Pemuda Atakore yang sudah sadar akan tipu muslihat pihak PLN. Masyarakat Atakore sudah diedukasi dan sudah mulai sadar akan tipu muslihat PLN setelah mereka mendapat edukasi dan pencerahan dari Forum Pemuda Atakore.










