ENDE, FLORESPOS.net-Gerakan melestarikan kopi lokal Endemik Flores yaitu Kopi Turajaji terus dipertahankan kelompok petani di Kabupaten Ende.
Salah satu gerakan yang dilakukan oleh petani yaitu melakukan penyemaian ribuan bibit Kopi Turajaji jenis Kolombia Merah, Kolombia Kuning dan Tipika oleh petani pada Selasa (22/9/2026) siang.
Kegiatan tersebut diawali dengan Launching dan Talk Show yang menghadirkan Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda dan seluruh stakeholder di pondok Coffe Mondi, Detubapa, Kecamatan Detusoko.
Tujuannya adalah membangun komitmen bersama antara pemerintah, stakeholder terkait dan petani untuk mengembangkan kopi ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan kemandirian pangan.
Kopi Turajaji (Kolombia Merah, Kolombia Kuning dan Tipika) dipertahankan dan harus dikembangkan karena kopi tersebut dibawa oleh misionaris dari ordo Domanikan pada enam ratus tahun lalu dan sudah adaptif dengan alam Flores, Kabupaten Ende.
Saat ini kopi Turajaji masih tumbuh di sekitar pegunungan Kelimutu dan cenderung menurun maka dibutuhkan gerakan bersama untuk melestarikan kopi ini.
Ferdinandus Rega, Founder Istana Sehat berkomitmen melestarikan kopi Turajaji sudah menjadi bagian dari Ende- Flores.
Ferdinandus mengatakan saat ini kopi Turajaji telah dikirim ke delapan negara yaitu Amerika, Prancis, Jerman, Jepang, Korea, Singapura, Belanda dan Malaysia.
“Kita kolaborasi dengan teman- teman untuk bawa kopi Turajaji keluar dari daerah, tidak ada MoU, hanya saling percaya, gotong royong dan saling menghidupi dalam semangat Turajaji”.
Terkait dengan kegiatan persemaian, kata Ferdinandus, sebagai langkah untuk membangkitkan kembali gerakan menanam kopi endemik Flores dalam semangat Turajaji.
Semangat Turajaji adalah semangat cinta kaish yang mengandung nilai dasar yang dibangun yaitu saling mengajak, duduk bersama, saling mendengarkan, gotong royong dan saling menghidupi.
“Tahap ini kita semaikan dulu baru kita bagikan anakannya kepada petani dan lanjutkan dengan pendampingan hingga panen dan pengelolaan keuangan. Kita mulai dari 50 petani. Mereka akan menjadi contoh bagi yang lain”.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










