Orang-orang yang beri sosialisasi omong baik-baik semua persis mereka baru turun lihat geothermal yang dibohongkan “energi terbarukan” dari neraka. Benar kata Mark Twain, tambang (termasuk geothermal) adalah lubang yang digali oleh para pembohong. Rakyat Lembata tidak akan pernah lupa bahwa tambang emas di Kedang dan Leragere ditolak karena solidaritas kemanusiaan lintas batas.
Energi Terbarukan Apanya?
Pihak PLN, Pokja dan antek-anteknya getol omong (kosong) tentang energi terbarukan dari proyek geothermal. Bahkan Bupati Kanis Tuaq sesumbar mendukung penuh PLTP Atadei hanya karena menerima sowan dari PLN.
Apa yang Bupati pikirkan tentang energi terbarukan itu? Apanya yang baru? Faktanya: alam dihancurkan, sumber panas bumi di Watuwawer, tempat warga menjadikannya “dapur alam” untuk memasak makanan dan lauk, akan hancur dan hilang dalam sekejap.
Kita tidak membayangkan lingkungan sekitar akan hancur. Zat beracun yang mematikan menjadi ancaman paling dahsyat bagi keberlanjutan hidup manusia. Apakah proyek geothermal terlaksana hanya karena Sebagian warga yang mungkin saja kurang informasi dan terjepit kebutuhan hidup menjual tanahnya kepada PLN?
Apakah dampak buruk nanti hanya dialami oleh kelompok pemilik tanah yang menggadaikan hidup dan masa depan anak cucunya?
Mengapa kita tidak pikirkan tntang energi sinar matahari yang melimpah ruah? Mengapa negara yang direpresentasi oleh institusi PLN dan Pemkab Lembata diwakili Pokja memaksakan sebuah proyek berdampak destruktif tanpa mendengarkan suara penolakan rakyat yang lintas generasi mengais hidup dan masa depan di atas tanah yang hendak dirusakkan?
Apakah Bupati Kanis Tuaq hanya mau baik dan sopan kepada PLN lalu pada saat yang sama menguburkan rakyat Atadei?
Mestinya pemimpin Lembata saat ini terbuka untuk belajar dari Mantan Penjabat Bupati Lembata, Paskalis Tapobali yang dalam kasus geothermal sangat hati-hati dan bijaksana menyampaikan pendapat. Paskalis tidak pernah menyatakan menerima proyek PLTP Atadei ini. Dia kembalikan semuanya kepada rakyat.
Benar, rakyat Lembata tidak hanya butuh pemimpin yang baik saja tapi mesti kritis dan rasional. Pemimpin itu harus berpikir, bukan sekadar merasa baik-baik saja. Omongan pemimpin harus mempertimbangkan banyak aspek dan dimensi.
Pemimpin jangan asal omong, apalagi omong asal-asal saja. Jangan sampai luka di hati masyarakat membara dalam kekerasan. Jadi klaim “energi terbarukan” itu hanya bualan da khayalan PLN dan antek-anteknya.










