Percaya Diri Tanpa Kompetensi: Psikologi di Balik Dunning-Kruger Effect - FloresPos Net

Percaya Diri Tanpa Kompetensi: Psikologi di Balik Dunning-Kruger Effect

- Jurnalis

Jumat, 12 September 2025 - 11:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

DUNNING-Kruger Effect merupakan salah satu bias kognitif paling menarik dalam psikologi karena menyentuh inti dari bagaimana manusia menilai dirinya sendiri dan orang lain.

Bias ini merujuk pada fenomena ketika seseorang dengan kemampuan rendah pada suatu bidang cenderung melebih-lebihkan kemampuannya, sedangkan orang dengan kemampuan tinggi justru sering meremehkan kompetensinya.

Dalam istilah sederhana, mereka yang kurang tahu sering kali merasa paling tahu, sementara yang benar-benar menguasai sesuatu justru kerap merasa masih kurang.

Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog David Dunning dan Justin Kruger pada akhir 1990-an melalui serangkaian eksperimen yang menunjukkan adanya pola sistemik penyimpangan dari pemikiran rasional.

Baca Juga :  Lamentasi Affan

Untuk memahami bias ini dengan baik, kita perlu membedah mekanisme psikologis yang melatarbelakangi, pemicu-pemicunya, serta implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bias kognitif pada dasarnya adalah pola penyimpangan yang konsisten dari penalaran logis dan obyektif.

Otak manusia, alih-alih selalu bekerja dengan kalkulasi rasional, justru sering kali mengambil jalan pintas (heuristik) untuk memproses informasi. Jalan pintas ini membantu kita mengambil keputusan cepat dalam kondisi mendesak, tetapi sekaligus membuat kita rentan terhadap penilaian keliru.

Dunning-Kruger Effect hanyalah salah satu manifestasi dari bias kognitif, di mana masalah utama bukan hanya keterbatasan pengetahuan, tetapi ketidakmampuan seseorang untuk mengenali keterbatasannya sendiri.

Baca Juga :  Memanggul ‘Nampan Pelayanan’ (Sisip Gagas Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo)

Dalam penelitian awalnya, Dunning dan Kruger mengamati peserta ujian logika, tata bahasa, dan humor. Mereka menemukan bahwa peserta dengan skor rendah justru secara konsisten menilai diri mereka lebih tinggi dibandingkan kenyataan.

Sebaliknya, peserta dengan skor tinggi sering kali menilai diri mereka rata-rata, karena mereka menganggap hal-hal yang mudah bagi mereka juga mudah bagi orang lain.

Fenomena ini menjelaskan paradoks bahwa ketidaktahuan bukan hanya menciptakan kesalahan, tetapi juga menutup jalan untuk menyadari kesalahan itu sendiri.

Berita Terkait

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Indonesia yang Sibuk, Tapi Kehilangan Kepedulian
Berita ini 86 kali dibaca
Redaksi menerima kiriman artikel Opini. Artikel, profil singkat dan foto penulis dikirim melalui email: redflorespos@gmail.com atau florespos@yahoo.co.uk.

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:14 WITA

Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA