Oleh: Anselmus DW Atasoge
PERTEMUAN yang diselenggarakan oleh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) di Gedung Pemuda, Jakarta, pada Selasa, 13 Januari 2026, menjadi momentum krusial bagi arah kepemimpinan nasional.
Dalam forum bertajuk “Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026” tersebut, Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo hadir bersama sejumlah tokoh lintas iman dan intelektual bangsa seperti Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Romo Franz Magnis-Suseno, Alissa Wahid, Lukman Hakim Saifuddin, dan Pdt. Gomar Gultom.
Di hadapan para tokoh ini, Kardinal Suharyo menyampaikan kegelisahan moralnya mengenai urgensi kehadiran pemimpin yang memiliki integritas tinggi serta moralitas kokoh.
“Saya berharap dengan hadirnya Gerakan Nurani Bangsa di Gedung Pemuda ini, para pemimpin kita sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bukan penguasa,” kata Kardinal Suharyo, Selasa (13/1/2026). Seruan ini merupakan bentuk kritik profetik terhadap realitas kekuasaan yang cenderung menjauh dari ‘nilai-nilai pengabdian murni’ kepada masyarakat luas.
Pembedaan antara sosok pemimpin dan penguasa merupakan poin inti yang memiliki dasar sosiologis sangat kuat. Pemimpin sejati mengandalkan otoritas yang berakar pada ‘kepercayaan publik’, sedangkan penguasa sering kali hanya mengandalkan ‘dominasi struktur’ untuk memuaskan ambisi kelompoknya.
Contoh nyata dari fenomena ini terlihat ketika kebijakan publik justru dirancang untuk menguntungkan jejaring kroni daripada meringankan beban masyarakat kecil yang terdampak krisis. Perilaku semacam ini menciptakan ‘jarak sosial’ yang lebar antara pemegang kebijakan dan warga negara, yang pada gilirannya melemahkan kohesi sosial dalam sebuah bangsa yang majemuk.
Kecenderungan untuk mementingkan kelompok sendiri merupakan manifestasi dari partikularisme yang mengancam stabilitas nasional. Dari perspektif sosiologi agama, peran utama seorang pemimpin nasional adalah menjadi ‘figur universal’ yang mampu melampaui batas-batas primordial.
Integritas menjadi modal utama bagi seorang pemimpin untuk memastikan bahwa keadilan sosial dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Tanpa adanya integritas, politik hanya akan menjadi ajang ‘transaksi kepentingan’ yang mengabaikan kesejahteraan umum demi keuntungan segelintir elite.
Tanggung jawab yang diemban oleh seorang pemimpin menuntut kesediaan untuk mengutamakan kepentingan publik di atas segalanya. Seruan Kardinal Suharyo dalam forum GNB tersebut menjadi pengingat bahwa etika harus dikembalikan ke ‘pusat ruang publik’ agar kebijakan yang lahir benar-benar berpihak pada kemanusiaan.
Di titik itu, transformasi mentalitas dari seorang penguasa menjadi seorang pelayan merupakan syarat mutlak bagi terciptanya peradaban bangsa yang bermartabat. Harapan yang disuarakan melalui gerakan ini adalah panggilan bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjunjung tinggi standar moral dalam memilih dan menjalankan kepemimpinan nasional.
Kepemimpinan harus menjadi oase di tengah gersangnya etika, sebuah pelita yang tidak membakar, melainkan menerangi jalan bagi mereka yang kehilangan arah di bawah bayang-bayang ketidakadilan.
Ketika nurani menjadi kompas, setiap kebijakan yang lahir adalah kidung kasih bagi rakyat, mengubah wajah kekuasaan yang kaku menjadi pelukan hangat seorang pelayan yang setia menjaga api harapan tetap menyala.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran sosiolog Robert Bellah mengenai “agama sipil” (civil religion). Bahwasanya, keberlangsungan sebuah bangsa bergantung pada nilai-nilai moral transendental yang dihayati secara kolektif di ruang publik.
Kekuasaan yang tercerabut dari akar etisnya hanya akan menghasilkan struktur yang dingin dan hampa makna. Dan, kepemimpinan yang berlandaskan nurani mampu menyatukan keragaman dalam satu ikatan batin yang sakral.
Pada akhirnya, bangsa ini sedang menanti fajar baru. Di sana, para pemimpinnya tidak lagi memandang takhta sebagai mahkota kejayaan, melainkan sebagai ‘nampan pelayanan’ yang dibawa dengan kerendahan hati demi kemuliaan seluruh penghuni negeri. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










