Manggarai Rawan Hasilkan Generasi Kerdil - FloresPos Net

Manggarai Rawan Hasilkan Generasi Kerdil

- Jurnalis

Senin, 8 Mei 2023 - 21:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rafael Jata Ngama Dawi

STUNTING di NTT masih menjadi momok yang mengkhawatirkan. Stunting atau tubuh pendek atau sering dikenal dengan “manusia kerdil” adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama periode 1.000 hari pertama kelahiran (hpk). Periode ini dimulai dari janin hingga anak berusia 24 bulan.

Di Indonesia, kemunculan Stunting sudah lama. Sejak Orde Lama (Orla) hingga Orde Baru (Orba) pemerintah gencar melakukan program perbaikan gizi baik di tingkat pusat maupun daerah guna penekan stunting. Tidak hanya itu, perjuangan pemeritntah melawan stunting pun terus berlanjut hingga sekarang.

Lalu bagaimana perkembangan stunting di NTT, khususnya Kabupaten Manggarai dalam lima tahun terakhir? Hasil Pantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 mencatat bahwa prevalansi stunting balita tertinggi diraih Provinsi NTT yang mencapai 40,3 persen, yang terdiri dari bayi dengan kategori sangat pendek 18 persen dan pendek 22,3 persen, sedangkan di Kabupaten Manggarai itu sendiri separuh anak (50,3%) usia Balita mengalami stunting (Kementerian Kesehatan, 2017).

Selain karakteristik ibu dan pola asuh anak, masalah stunting juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kondisi geografis (kepadatan penduduk, kondisi iklim dan sanitasi yang tidak memadai) sehingga analisa demografi (pure dan sosio) penting untuk dilakukan dalam mengatasi masalah ini hingga tingkat perdesaan.

Musuh Besar yang Harus Diperangi

Perpres RI No. 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting menjelaskan bahwa stunting adalah bentuk kekurangan gizi kronis. Ini ditandai secara fisik, balita stunting memiliki tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya pada populasi, sesuai rujukan World Health Organization (WHO).

Beberapa penyebab stunting antara lain faktor keluarga dan rumah tangga seperti; maternal/kesehatan ibu (nutrisi yang kurang pada saat prekonsepsi, kehamilan dan laktasi akibat mitos masyarakat, tinggi ibu yang rendah, infeksi, kehamilan pada usia remaja, jarak kehamilan yang terlalu dekat).

Sedangkan faktor lingkungan seperti; stimulasi dan aktivitas anak kurang, sanitasi dan pasokan air yang buruk, ketersediaan pangan yang sulit, makanan yang kurang sesuai, dan edukasi pengasuh yang rendah.

Faktor lain seperti kualitas makanan yang rendah, kurangnya sumber makanan hewani, makanan yang terkontaminasi, kurangnya kebersihan makanan, pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang terlambat atau ASI tidak ekslusif, infeksi klinis seperti diare, infeksi cacing, infeksi pernapasan dan malaria (Perpres RI No. 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting).

Perlu dicatat, NTT menempati urutan pertama masalah stunting dalam skala nasional periode 5 tahun berturut-turut. (2017-2022).

Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya “asupan gizi”.Sengaja saya garis bawahi kata “asupan gizi. Ini agak miris, lantaran NTT merupakan daerah kepulauan yang memiliki hasil alam yang masuk dalam kategori baik.

Sebut saja Nagekeo dijuluki sebagai kota pangan, atau Sumba sebagai penghasil susu, SoE sumber Madu hutan, Lembata penghasil ikan, Kupang penghasil sayur kelor dan masih banyak lagi daerah yang memiliki hasil alam yang cukup banyak menyumbang nilai gizi masyarakatnya.

Dengan hasil alam yang tergolong baik hampir di setiap kabupaten, seharusnya NTT tidak meraih peringkat fantastis (peringkat satu) dalam skala nasional selama 5 tahun berturut-turut. Masalahnya bukan pada Sumber Daya Alam (SDA) tapi akar persoalan terletak pada mindset atau pola pikir (sumber daya manusia).

Baca Juga :  Membuka Ruang bagi Jiwa yang Terluka

Pemerintah baik pusat maupun daerah telah gencar melakukan berbagai upaya perbaikan gizi masyarakat bahkan hingga ke pelosok daerah guna mencegah dan menekan naiknya angka stunting di NTT. Stunting adalah musuh besar yang harus diperangi secara bersama.

Langkah Kecil Demi Generasi Mendatang

Pencegahan terhadap stunting perlu dilakukan sedini mungkin, yakni sejak ibu sedang mengandung. Harus dipastikan bahwa asupan gizi bagi ibu hamil terpenuhi. Maka dari itu, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi selama masa kehamilan. Ibu hamil dapat mengonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran dokter jika dibutuhkan.

Selain itu, ibu hamil harus memastikan kondisi kehamilan dengan cara melakukan cek kesehatan secara rutin ke bidan atau dokter atau sering disebut dengan pelayanan antenatal.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemeskes) tahun 2017, persentase rata-rata cakupan pelayanan antenatal K1 di NTT adalah sebesar 78,2 persen. Artinya bahwa dari 100 orang ibu hamil sebanyak 78 orang yang melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk memeriksakan kehamilan.

Sementara itu, persentase rata-rata cakupan pelayanan antenatal K4 yakni sebesar 56,6 persen. Hal ini menandakan bahwa dari 100 orang ibu hamil hanya 56 orang yang mendapatkan pelayanan sesuai standar yakni paling sedikit empat kali kunjungan dengan distribusi sekali pada trisemester pertama, sekali pada trisemester kedua dan dua kali pada trisemester ketiga.

Padahal, Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupten Manggarai untuk cakupan pelayanan K4 sebesar 95 persen. Jika melihat konsumsi masyarakat Manggarai, rata-rata konsumsi kalori perkapita sehari adalah sebesar 2.031,60 kkal dimana sumber kalori terbesar berasal dari padi-padian (1.217,45 kkal) dan umbi-umbian (60,24 kkal. Angka ini menunjukkan konsumsi beras sehari-hari cukup tinggi atau dengan kata lain porsi olahan beras banyak tersaji dalam piring makanan masyarakat ManggaraI.

Fakta yang menarik lainnya, rata-rata konsumsi protein perkapita perhari sebesar 55,92 gram yang justru sumber terbanyak dari padi-padian (28,90 gram). Sebagai provinsi kepulauan, rata-rata konsumsi protein perkapita dari kelompok ikan hanya sebesar 6,72 gram perhari sedangkan untuk konsumsi makanan sumber protein lainnya seperti daging, telur, dan susu masih rendah.

Bahkan, proporsi bayi berusia di bawah dua tahun (baduta) yang mendapatkan makanan beragam sekitar 23 persen. Perlu adanya sosialisasi akan pentingnya gizi seimbang dalam porsi piring makanan perhari karena tujuan mengonsumsi makanan tidak hanya sekadar untuk mengatasi rasa lapar, akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh.

Pola Asuh yang Tepat

Berdasarkan data Kemenkes, proporsi inisiasi menyusui dini (IMD) untuk bayi baru lahir yaitu 75,26 persen. Artinya delapan dari sepuluh bayi baru lahir sudah mendapat inisiasi menyusui dini. Selanjutnya, proporsi bayi yang mendapat air susu ibu (ASI) ekslusif sebesar 79,45 persen.

ASI ekslusif merupakan sumber nutrisi bagi sejak bayi lahir yang tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya terutama risiko terjadinya stunting. Riskesdas menunjukkan baduta yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap sekitar 53 persen yang artinya baru setengah baduta yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Begitu juga dengan kecukupan vitamin, hanya setengah dari balita (50 persen) yang mendapatkan capsul vitamin A dalam 12 bulan terakhir.

Pemantauan pertumbuhan balita juga masih rendah. Hanya sekitar 64 persen balita yang pertumbuhan tubuhnya diukur lebih dari delapan kali selama 12 bulan terakhir sedangkan balita yang ditimbang kurang dari delapan kali sekitar 33 persen dan sisanya tidak pernah diukur pertumbuhannya.

Baca Juga :  Perspektif Komunikasi dalam Menjembatani Kesenjangan Pemerataan Pendidikan

Perlu adanya penyebaran informasi yang masif dan tepat sasaran terkait pencegahan stunting. Ibu dan calon ibu harus memenuhi kebutuhan gizi sebelum maupun saat proses kehamilan.

Selain itu, wajib mengetahui pentingnya ASI bagi tumbuh kembang bayi dengan memberikan hanya ASI ekslusif untuk bayi hingga berusia enam bulan kemudian memberikan makanan pendamping ASI sampai usia dua tahun.

Jangan lupa juga untuk memantau pertumbuhan bayi dan balita dengan menimbang di posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lainnya. Selain itu, berikan kekebalan tubuh pada balita melalui imunisasi yang lengkap agar tahan dari berbagai penyakit. Pencegahan stunting berawal dari masing-masing keluarga.

Tiap keluarga harus memastikan anak-anaknya tidak hanya kenyang namun juga berkecukupan gizi. Selain itu, memantau pertumbuhan balita menjadi sebuah keharusan untuk memastikan bahwa tidak terdapat masalah pada perkembangan sang buah hati.

Dibutuhkan juga peran pemerintah dalam membentuk regulasi dan program kebijakan yang tepat sasaran. Jangan sampai generasi masa depan bangsa memiliki fisik dan kemampuan berpikir yang lemah ! Maka dari itu, melawan stunting itu penting.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada opini saya ini dapat disimpulkan bahwa determinan sosio demografi dan pure demografi sangat menentukan kejadian stunting pada balita di wilayah Kabupaten Manggarai.

Jika dilihat dari analisis dan data pure demografi, ada korelasi antar tingkat kelahiran stunting dan tingkat pertumbuhan penduduk baik dari jumlah laki-laki dan jumlah perempuan.

Jika kita kaitkan dengan determian sosio demografi maka jawaban atas pertanyaan kita, mengapa ada korelasi antar keduanya akan terjawab. Tingkat pertumbuhan laki-laki dan perempuan yang terus meningkat dapat meningkatkan juga angka perkawinan dan pernikahan.

Dan jika pasangan baru ini memiliki atau terindikasi menyebabkan stunting maka mereka tentu akan memiliki keturunan yang stunting juga. Determinan yang paling berisiko terhadap kejadian stunting adalah tingkat pendapatan keluarga dan status pendidikan ibu.

Status ekonomi berkaitan dengan pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua (khususnya ayah), dan pendapatan keluarga. Hal juga berkaitan dengan tempat tinggal rural/urban. Tingkat kesejahtraan finansial keluarga dan tingkat pendidikan berhubungan negatif dengan kejadian stunting.

Semakin tinggi pendapatan keluarga maupun tingkat pendidikan orang tua, maka peluang terjadinya stunting pada anak semakin menurun. Keluarga yang bertempat tinggal di desa (urban) lebih berisiko mempunyai anak stunting dibandingkan yang tinggal di kota (urban).

Selain itu, pada beberapa negara berkembang masih ditemukan adanya kontak budaya yang berkaitan dengan kejadian stunting seperti urutan kelahiran anak, adanya kakek/nenek yang tinggal bersama, maupun status ayah yang poligami (mempunyai istri lebih dari 1 orang).

Diketahui bahwa status ekonomi dan tingkat pendidikan ibu merupakan determinan utama terhadap kejadian stunting. Oleh karenanya, kedua variabel tersebut perlu diprioritaskan dalam rencana strategi nasional untuk mengatasi stunting.

Di level masyarakat, diperlukan adanya pemberian informasi dan peningkatan kapasitas ibu maupun ayah dari balita mengenai stunting, dampak, dan pencegahannya, termasuk variabel-variabel sosio demografi yang penting dan masih dapat diubah untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mendukung program prioritas nasional yakni penurunan STUNTING di Indonesia.*

*Rafael Jata Ngama Dawi adalah Praja Institusi Pemerintahan Dalam Negeri, Program Studi Kebijakan Publik.

Berita Terkait

Demokrasi Desa yang Bermartabat
Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional
Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:16 WITA

Demokrasi Desa yang Bermartabat

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:08 WITA

Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Berita Terbaru

Desa Kita

Demokrasi Desa yang Bermartabat

Jumat, 17 Jul 2026 - 13:16 WITA