Membuka Ruang bagi Jiwa yang Terluka - FloresPos Net

Membuka Ruang bagi Jiwa yang Terluka

- Jurnalis

Selasa, 26 Agustus 2025 - 19:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

BERITA Florespos.net (Selasa, 26 Agustus 2025) tentang masih adanya 52 Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terpasung di Manggarai Timur bukan sekadar catatan medis atau statistik sosial.

Ia adalah cermin retak dari kemanusiaan kita, sebuah panggilan sunyi untuk merenungkan kembali hakikat manusia sebagai makhluk yang bermartabat.

Dalam terang filsafat eksistensial, setiap pribadi, termasuk mereka yang mengalami gangguan jiwa, adalah subjek yang memiliki nilai tak tergantikan, kebebasan batin, dan hak untuk tumbuh dalam cinta dan pengakuan.

Pemasungan, meski mungkin lahir dari ketakutan atau ketidaktahuan, pada dasarnya adalah bentuk kekerasan simbolik yang menolak eksistensi manusia sebagai makhluk yang layak dihormati dan dirawat.

Baca Juga :  Korupsi: Kanker yang Gerogoti Fondasi Demokrasi

Filsafat humanistik mengajarkan bahwa penderitaan bukan alasan untuk menghapuskan hak-hak dasar seseorang, melainkan panggilan untuk memperluas ruang empati dan tanggung jawab. Ketika masyarakat membiarkan ODGJ terpasung, kita sedang membiarkan luka kolektif menganga di tubuh sosial kita.

Dalam konteks filsafat manusia, penderitaan bukanlah alasan untuk menghapuskan hak-hak dasar seseorang. Justru dalam penderitaan, manusia membutuhkan pengakuan, relasi, dan solidaritas.

Ketika ODGJ diperlakukan sebagai “masalah” atau “beban sosial”, kita kehilangan pandangan bahwa mereka adalah sesama yang memiliki dunia batin, harapan, dan potensi untuk pulih.

Baca Juga :  Festival Lamaholot, Identitas dan Kohesi Sosial

Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi “Aku-Kau” harus menggantikan relasi “Aku-Itu” yang objektif dan menjarakkan. Dalam terang pemikiran ini, ODGJ bukanlah objek intervensi medis semata, melainkan pribadi yang harus ditemui, didengarkan, dan dirangkul dalam komunitas yang manusiawi.

Ajakan Wakil Bupati Manggarai Timur, Tarsisius Sjukur, untuk mengambil bagian dalam program ODGJ berbasis komunitas adalah langkah etis yang patut diapresiasi.

Komunitas, dalam pandangan filsafat Emmanuel Levinas, adalah ruang tanggung jawab terhadap wajah sesama. Wajah ODGJ yang terpasung adalah wajah penderitaan yang menuntut kita untuk tidak berpaling.

Berita Terkait

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Berita ini 80 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Berita Terbaru