Percaya Diri Tanpa Kompetensi: Psikologi di Balik Dunning-Kruger Effect - FloresPos Net - Page 3

Percaya Diri Tanpa Kompetensi: Psikologi di Balik Dunning-Kruger Effect

- Jurnalis

Jumat, 12 September 2025 - 11:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Individu dengan tingkat kompetensi tinggi justru memunculkan paradoks kebalikannya, yang disebut imposter syndrome. Mereka cenderung meragukan diri sendiri karena menyadari luasnya pengetahuan yang belum mereka kuasai.

Pemicu utamanya adalah kemampuan untuk mengenali kompleksitas suatu bidang. Semakin seseorang memahami sesuatu secara mendalam, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang belum diketahuinya.

Akibatnya, mereka sering menilai diri mereka setara atau bahkan di bawah rata-rata, padahal secara obyektif mereka berada di puncak kompetensi.

Fenomena ini menegaskan bahwa bias kognitif tidak hanya mendorong orang kurang kompeten untuk merasa superior, tetapi juga membuat orang sangat kompeten meremehkan dirinya sendiri.

Baca Juga :  Karakter Terancam, Relasi Memudar, Kembali Memperkuat Pendidikan

Dunning-Kruger Effect juga memiliki implikasi signifikan dalam pengambilan keputusan, terutama di tingkat kolektif. Dalam dunia politik, misalnya, pemilih yang kurang memahami kebijakan publik bisa terpengaruh oleh retorika sederhana atau janji-janji populis, sementara kandidat yang memahami kompleksitas masalah sering kali terdengar kurang meyakinkan karena penjelasannya penuh nuansa dan ketidakpastian.

Fenomena serupa juga terjadi dalam organisasi. Pemimpin yang memiliki kompetensi terbatas namun penuh percaya diri bisa naik ke posisi strategis karena tampak meyakinkan di mata orang lain. Namun, ketika dihadapkan pada krisis, keterbatasan pengetahuan mereka menjadi fatal.

Dalam konteks ini, bias kognitif bukan sekadar masalah psikologi individual, tetapi juga persoalan struktural yang memengaruhi kebijakan, stabilitas organisasi, dan bahkan keamanan masyarakat.

Baca Juga :  Pemimpin dengan Predikat Mosa Ngai Dewa-Daki Rende Ria (Sebuah Perspektif Sosial dan Alternatif untuk Nagekeo Makin Mandiri)

Teknologi modern memperkuat efek ini melalui fenomena information overload. Kita hidup di era di mana informasi tersedia melimpah, tetapi kemampuan memilah informasi valid semakin terbatas.

Kemudahan akses membuat orang sering keliru menyamakan exposure dengan pemahaman. Membaca satu artikel atau menonton satu video sering dianggap cukup untuk merasa “menguasai” sebuah topik.

Media sosial memperparah situasi karena menyediakan ruang gema (echo chamber), di mana orang hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan keyakinannya.

Berita Terkait

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Indonesia yang Sibuk, Tapi Kehilangan Kepedulian
Berita ini 86 kali dibaca
Redaksi menerima kiriman artikel Opini. Artikel, profil singkat dan foto penulis dikirim melalui email: redflorespos@gmail.com atau florespos@yahoo.co.uk.

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:14 WITA

Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA