Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka - FloresPos Net - Page 4

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

- Jurnalis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasih sayang yang sejati tidak bertanya, “Siapa dia?” sebelum membantu, tetapi bertanya, “Apa yang ia butuhkan?” sebelum bertindak. Ketika prinsip ini hidup dalam masyarakat, maka agama berfungsi sebagai jembatan kemanusiaan, bukan tembok pemisah.

Kemanusiaan sebagai Jalan Menuju Ketuhanan

Banyak orang memahami agama terutama sebagai relasi vertikal antara manusia dengan Tuhan. Pandangan semacam ini memiliki akar dalam sejumlah tradisi pemikiran keagamaan modern, antara lain Friedrich Schleiermacher (1768-1834).

Schleiermacher mendefinisikan agama sebagai das schlechthinnige Abhängigkeitsgefühl, yakni “perasaan ketergantungan mutlak” manusia kepada Yang Absolut. Baginya, inti agama terletak pada pengalaman batin manusia di hadapan Tuhan, bukan pertama-tama pada institusi sosial, moralitas, atau politik.

Baca Juga :  Reklamasi Peran Guru Dalam ‘Toing, Titong, Tatong’ Bagi Generazi Z

Namun, tradisi kenabian Muhammad memperlihatkan sebuah horizon yang berbeda. Dalam tradisi Islam, cinta kepada sesama manusia bukanlah nilai yang terpisah dari iman.

Nabi Muhammad SAW menegaskan, “Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih” (tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri).

Baca Juga :  "Tragedi" Kewapante Daya Ungkit Kesadaran Moral Bumi Hanguskan Judi

Karena itu, memuliakan sesama manusia merupakan salah satu manifestasi konkret dari keimanan dan cinta kepada Allah. Gempa Flores menghadirkan kesempatan untuk memahami kembali hubungan tersebut.

Di tengah reruntuhan bangunan dan kecemasan masa depan, pengamalan agama menemukan bentuknya yang paling nyata: menguatkan yang lemah, mendampingi yang berduka, dan membantu mereka yang kehilangan harapan.

Maulid Nabi tahun ini (1448 H / 2026 M) mengingatkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak hanya ditempuh melalui ritual, tetapi juga melalui pelayanan kemanusiaan.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 236 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Berita Terbaru

Wiudawan STIE Karya Ruteng.

Nusa Bunga

STIE Karya Ruteng Jadi Rumah Persemaian  Nilai Kemanusiaan

Rabu, 14 Okt 2026 - 13:12 WITA

Nusa Bunga

John Tuba Helan Kritisi Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah

Rabu, 14 Okt 2026 - 11:08 WITA