Kasih sayang yang sejati tidak bertanya, “Siapa dia?” sebelum membantu, tetapi bertanya, “Apa yang ia butuhkan?” sebelum bertindak. Ketika prinsip ini hidup dalam masyarakat, maka agama berfungsi sebagai jembatan kemanusiaan, bukan tembok pemisah.
Kemanusiaan sebagai Jalan Menuju Ketuhanan
Banyak orang memahami agama terutama sebagai relasi vertikal antara manusia dengan Tuhan. Pandangan semacam ini memiliki akar dalam sejumlah tradisi pemikiran keagamaan modern, antara lain Friedrich Schleiermacher (1768-1834).
Schleiermacher mendefinisikan agama sebagai das schlechthinnige Abhängigkeitsgefühl, yakni “perasaan ketergantungan mutlak” manusia kepada Yang Absolut. Baginya, inti agama terletak pada pengalaman batin manusia di hadapan Tuhan, bukan pertama-tama pada institusi sosial, moralitas, atau politik.
Namun, tradisi kenabian Muhammad memperlihatkan sebuah horizon yang berbeda. Dalam tradisi Islam, cinta kepada sesama manusia bukanlah nilai yang terpisah dari iman.
Nabi Muhammad SAW menegaskan, “Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li akhīhi mā yuḥibbu linafsih” (tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri).
Karena itu, memuliakan sesama manusia merupakan salah satu manifestasi konkret dari keimanan dan cinta kepada Allah. Gempa Flores menghadirkan kesempatan untuk memahami kembali hubungan tersebut.
Di tengah reruntuhan bangunan dan kecemasan masa depan, pengamalan agama menemukan bentuknya yang paling nyata: menguatkan yang lemah, mendampingi yang berduka, dan membantu mereka yang kehilangan harapan.
Maulid Nabi tahun ini (1448 H / 2026 M) mengingatkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak hanya ditempuh melalui ritual, tetapi juga melalui pelayanan kemanusiaan.










