Selain itu, Uskup Budi juga menyoroti potensi disorientasi kebudayaan berbasis pertanian di masyarakat juga terancam.
Uskup Budi turut menyampaikan pengalaman traumatis di salah
satu site yang menimbulkan masalah besar di Mataloko dengan manifestasi uap yang terus melebar.
Uskup Budi menekankan bahwa penting untuk mempertanyakan penanganan ketika terjadi masalah; apakah ada kemauan untuk membuat mitigasi risiko dan apakah ada kemampuan baik secara teknis maupun finansial jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan termasuk jika terjadi bencana akibat pengeboran panas bumi?
“Siapa yang akan bertanggungjawab saat ini maupun masa mendatang? Seberapa besar manfaat pembangunan panas bumi bagi masyarakat Ende dibandingkan dengan kerugian dan hilangnya hak hidup masyarakat? Berbagai pertanyaan yang tidak terjawab inilah yang melatarbelakangi tumbuhnya sikap untuk penolakan bersama seluruh masyarakat Flores”.
Keuskupan Agung Ende yang memiliki tanggungjawab untuk bersama masyarakat yang tidak didengar dan yang menjadi korban dari proyek geothermal menyuarakan bersama penolakan ini.
Uskup Budi mengharapkan
tanggapan serius dari para pengambil kebijakan atas kondisi yang dialami masyarakat Flores termasuk tanggung jawab pengembang.
“Masalah ini bukan sekedar ganti rugi/ganti untung atau CSR nantinya, tetapi jauh melampaui hal-hal tersebut, utamanya Hak Hidup Masyarakat,” tegas Uskup Budi.
Hal yang sama turut disampaikan RD Reginald Piperno, Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian, Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Agung Ende yang mendampingi masyarakat di daerah Mataloko, Laja, dan Sokoria yang terus bertemu dengan warga yang
menghadapi permasalahan kompleks akibat operasi proyek panas bumi.
Ia menyatakan bahwa pergeseran dalam masyarakat terjadi tidak hanya dalam aspek lingkungan, tetapi juga sosial, budaya, hingga penajaman polarisasi antara warga pendukung dan penolak geothermal.
Kesaksian Warga
Pernyataan dari pihak Keuskupan Agung Ende dikuatkan oleh kesaksian warga dari daerah-daerah tersebut.
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










