LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Untuk memulihkan populasi pisang kepok serta pisang marmi di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) perlu gerakan bersama semua pihak di Pulau Flores, karena penyakitnya sudah akut dan menyebar di seluruh daratan Nusa Bunga, Flores.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Mabar, Tarsi Gonsa, mengatakan itu kepada Florespos.net, di Labuan Bajo belum lama ini.
Pendampingnya Kepala Bidang (Kabid) Hortikultura dan Perkebunan, Nasarus Natar, serta Kabid Produksi Tanaman Pangan, Blasius Apen.
Diberitakan media ini sebelumnya, genjot potensi pisang kepok, dewan segera undang DTPHP Manggarai Barat.
Menurut Gonsa, jika benar DPRD Mabar mengundangnya terkait tanaman pisang kepok/pisang marmi di Mabar, dia siap menyampaikan hal terkait turunnya produksi, populasi dan penyakit yang menggerogoti komoditi satu itu sejauh ini, termasuk solusi.
Diungkapkan Gonsa dan Natar, tanaman pisang marmi/pisang kepok di Manggarai Barat tahun-tahun terakhir terserang penyakit layu bakteri dan sudah akut, masal, karena semua jenis pisang yang sama di kabupaten itu sepertinya sudah terkena penyakit tersebut.
“Dari data yang ada, semua tanaman pisang marmi/pisang kepok kita di Manggarai Barat ini sudah terkena penyakit tadi itu, layu bakteri itu. Habis sudah kita, selesai sudah kita,” kata Gonsa, diamini Natar.
Penyakit serupa yang disebabkan bakteri itu juga sepertinya sudah lama menggerogoti tanaman pisang kepok/pisang marmi di tanah Flores tahun-tahun belakangan. Penyakit layu bakteri bersifat menular, ujar keduanya.
Di semua kecamatan di Manggarai Barat, kata Gonsa dan Natar, hampir semua masyarakat membudidayakan pisang kepok/pisang marmi. Dan bagi penduduk Flores sejak dulu, pisang adalah salah satu sumber pendapatan/perekonomian, disamping untuk makan, konsumsi, tak terkecuali masyarakat Mabar.
Hanya, masih keduanya, produksi dan populasi tanaman pisang marmi/pisang kepok di Mabar tahun-tahun belakangan sudah turun tajam, bahkan hampir hilang, karena digerogoti penyakit mematikan bernama layu bakteri itu. Serangannya masif.
Penyakit ini menular dan sepertinya belum ada obat, kecuali basmi total dan tanam anakan baru yang belum terkontaminasi penyakit semacam, penyakit darah pisang. Dan tanaman pisang kepok/pisang marmi di seantero Flores sepertinya mengalami nasib yang sama.
“Di Manggarai Barat penyakit ini terjadi mulai Tahun 2024 sampai sekarang. Dan sepertinya di seluruh Flores juga mungkin begitu,” kata Natar.
Memutuskan siklus penyakit layu bakteri, kata Natar, kecuali musna total dan bersifat masal, karena penyakit ini bersifat menular. Basminya tuntas sampai ke akar-akar. Akar-akarnya digali, dibongkar habis, dikumpul satu dengan batang-daun dan lainnya lalu dibakar. Karena penyakit ini antara lain bisa tular melalu parang atau pisau bekas potong pisang yang sudah terkena penyakit layu bakteri.
Gonsa menegaskan, untuk mengatasi penyakit layu bakteri perlu kerja sama semua pihak di Flores, pemerintah kabupaten se-Flores, masyarakat/petani se-Flores dan lain sebagainya, termasuk Mabar.
Dan semua ini mesti dikoordinasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov)Nusa Tenggara Timur (NTT), karena penyakit ini sudah melandai satu daratan. Tidak hanya di Mabar tetapi satu daratan, Flores. Ini seperti penyakit babi, ASF, yang juga melanda seluruh Flores selama ini.
“Penanganan penyakit layu bakteri tidak bisa spot. Nanti di sini atasi, tetapi sana, dan akhirnya kemabli lagi ke sini. Maka penanganannya serempak satu Flores. Selama penanganan total, masal, menyeluruh,” kata Gonsa diamini Natar dan Apen.
Diketahui, penyakit utama yang mematikan dan menyerang tanaman pisang kepok serta pisang marmi di pulau Flores selama ini adalah penyakit darah pisang (blood disease), disebabkan oleh infeksi bakteri Ralstonia Solanacearum (Blood Disease Bacterium), (buah/daging pisang jadi rusak/busuk).
Penyakit ini tular melalu serangga pengunjung bungah (vektor) pada jantung pisang, lewat parang/pisau yang terkontaminasi, via tanah, air larian, dan dari bibit/anakan dari induk yang sudah sakit. Penyakit darah pisang juga disebut penyakit layu bakteri atau layu darah. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










