Cepat atau lambat ini akan jadi target, saat dunia semakin sempit, bahan baku menipis. Kita punya nikel, batubara, emas, laut, hutan, semuanya ada disini. Kita seksi. Tetapi coba tengok ke dalam. Radar Indonesia disebutkan banyak bolongnya. Sistem perbankan, banyak kecolongan, banyak uang nasabah hilang tanpa penjelasan atau penjelasan pamflet. Masih numpang jalur pipa SWIFT punya Barat. Banyak data rahasia pribadi yang bisa di-cloud asing.
Operasi Caracas mengajarkan satu hal yakni Kedaulatan tanpa teknologi itu omong kosong. Diplomasi tanpa otot siber itu cuma puisi cengeng.
Jika besok kita dianggap “nakal” entah tiba-tiba karena hilirisasi atau karena vokal di PBB, siapkah kita, jika tombol “OFF” ditekan dari Washington?
Siapkah jika bank kita offline dan pesawat tempur asing sudah ada di atas Monas tanpa terdeteksi? Di meja makan raksasa dunia hari ini, pilihannya cuma dua yakni duduk memegang garpu sebagai pemain atau telanjang di atas piring sebagai menu santapan.
Faktanya, Indonesia masih sibuk dengan urusan agama, urusan halal dan haram, urusan kafir dan suci, urusan jubah dan sorban, urusan mayoritas dan minoritas, urusan surga dan neraka, dan berbagai urusan lainnya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemajuan teknologi AI tingkat tinggi sebagai bentuk proteksi negaranya.
Ingat, Caracas Venezuela sudah jadi menu dan bulan bulanan Amerika. Mari buka mata, buka wawasan, maju bersama, untuk Indonesia tercinta. *
Penulis adalah Jurnalis Media Indonesia tinggal di Denpasar










