Oleh: Dr. Polykarp Ulin Agan
DEBU adalah sesuatu yang kerap dianggap menyebalkan. Kehadirannya selalu menjengkelkan dan merepotkan. Namun tidak demikian untuk Silke Schlichtmann, seorang penulis buku anak-anak populer di Jerman.
Dalam karyanya Staub (2025) ia menorehkan sebuah kisah berbeda tentang debu. Sepintas, debu tampak tak lebih dari serbuk kotoran yang mengganggu. Tetapi ternyata, ia adalah bahan baku bagi pesona indah matahari yang terbenam, bagi bulir-bulir salju yang mempesona, dan bagi hujan yang menyegarkan kehidupan semesta.
Tanpa partikel-partikel kecil yang kerap diremehkan ini, langit takkan memancarkan keelokannya saat senja, dan awan takkan mampu melahirkan hujan.
Gagasan ini terasa puitis sekaligus ilmiah. Dalam atmosfer, debu mineral bekerja sebagai inti kondensasi dan inti es—tempat butiran air dan kristal salju memulai kelahirannya.
Debu juga membawa nutrisi penting seperti besi dan fosfor, melintasi ribuan kilometer untuk menyuburkan fitoplankton di laut yang menjadi penghasil oksigen sekaligus pengikat karbon utama bagi bumi.
Bahkan lapisan debu yang terperangkap dalam sedimen dan es purba menjadi arsip alam, membantu ilmuwan menafsirkan sejarah iklim masa lampau.
“Laudatio“ tentang debu tidak berhenti sampai di situ. Secara tak terduga sekaligus mengagumkan, debu adalah penghubung sunyi yang menyatukan daratan, lautan, dan udara.
Namun, apakah, alunan laudatio “ini masih dinyanyikan dalam lanskap yang setiap saat bergaul dengan materi-materi kecil yang menjengkelkan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya masyarakat Flores yang harus mengungsi dan menjadi, peziarah tanpa pijak“ akibat letusan gunung Lewotobi Laki-laki?
Debu: Peringatan Bagi Keseimbangan Ekosistem Ekologis dan Sosial di NTT
Di NTT, debu bukanlah metafora dan bukan pula sekadar puisi. Ia adalah kenyataan sehari-hari hadir di setiap musim kemarau yang panjang, di setiap jalan tanah yang pecah retak, di setiap hembusan angin kering dari bukit-bukit batu kapur.
Yang paling dramatis adalah kehadirannya sebagai abu vulkanik dari gunung-gunung yang masih, bernapas“, seperti Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, yang erupsinya menebarkan material halus melintasi ladang, rumah, dan langit desa-desa sekitarnya.
Abu vulkanik tentu membawa risiko: gangguan pernapasan, kerusakan tanaman, hingga kabut debu yang menutup jarak pandang. Namun, agar kita tidak terjebak dalam litani keluhan tanpa henti, marilah melihat debu dan abu ini melalui kacamata seorang Silke Schlichtmann.
Bencana seperti letusan gunung api yang memuntahkan asap dan debu adalah bagian dari ritme alam. Dalam jangka panjang, timbunan abu dapat menjelma menjadi tanah yang subur bagi kehidupan baru.
Bencana ini mengingatkan kita bahwa bumi di bawah telapak kaki bukanlah benda mati yang diinjak dan digeruk sekehendak hati. Bumi adalah “ibu“ yang terus berdinamika, melahirkan kehidupan tanpa henti. Kadang ia berteriak ketika diinjak tanpa tenggang rasa. Sering pula ia menangis dalam diam ketika disakiti oleh keserakahan dan egoisme manusia.
Bukan tidak mungkin bahwa air mata bumi yang menetes dalam senyap itu berubah menjadi partikel-partikel abu dan debu. Mereka beterbangan di udara sebagai isyarat, bahwa “ibu bumi“ kehausan dan tak lagi mampu memberikan “susu“ bagi pertumbuhan anak-anaknya.
Lahan hijau yang menjadi sumber keseimbangannya dialihfungsikan: hutan menjadi kebun jagung, mangrove menjadi pemukiman, perbukitan dibiarkan gundul tanpa penahan angin.
“Airmata debu“ yang beterbangan di udara adalah pengingat betapa pentingnya memelihara dan merawat landskap demi menciptakan ruang hidup yang seimbang.
“Airmata debu“ itu bukan hanya peringatan ekologis, tetapi juga pesan sosial agar kita membuka mata terhadap ketimpangan dalam masyarakat NTT. Ia menjadi metafora bagi, ibu bumi“ yang kehilangan napas dan nutrisi dasarmya.
Jika metafora ini diabaikan tanpa tindakan nyata, masyarakat harus siap menghadapi risiko menurunnya produktivitas pertanian sebuah kerentanan yang amat membebani ekonomi rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan ladang tadah hujan.
Kerentanan ekosistem sosial lain yang tercermin dalam “airmata debu“ adalah climate variability atau ketidakstabilan iklim. Di banyak desa di NTT, debu yang mengapung di udara menjadi tanda bahwa cuaca semakin tak menentu.
Masyarakat menafsirnya sebagai “tanah marah“, jeritan ibu bumi yang terluka oleh kelalaian manusia. Debu-debu itu adalah peringatan alam agar kita merawat dan menyembuhkan “luka bumi“.
Dalam kasus letusan gunung api seperti Lewotobi Laki-Laki, Ile Lewotolok, atau Egon, abu vulkanik membawa pesan tambahan: alam sedang menunjukkan ketidakseimbangannya. Karena itu, komunitas harus waspada dan mengambil langkah-langkah untuk kembali menyapa, dan bersahabat dengan alam.
Belajar Menghargai yang Kecil, Menyadari yang Besar
Apa yang dapat kita pelajari dari debu dari rumah tangga hingga pegunungan vulkanik, dari atmosfer global hingga lorong-lorong desa di NTT?
Partikel-partikel debu dan abu kerap diremehkan dan dianggap sebagai musuh kehidupan. Namun masyarakat adat yang memandang partikel kecil ini sebagai simbol atau tanda, dari atas“ dapat mengajarkan kita untuk menghargai yang kecil sekaligus menyadari yang besar.
Kehidupan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan yang massif dan hadirnya perusahaan-perusahan raksasa. Masih ada “dunia kecil“ rapuh, ringan, halus yang memberi andil besar bagi kestabilan ekosistem, baik ekologis maupun sosial.
Mengurangi sampah dan menerapkan daur ulang, menghemat energi dan air, menanam serta merawat tanaman adalah contoh-contoh tindakan kecil yang memiliki dampak besar bagi keseimbangan hidup.
Debu sebagai partikel kecil dan tampak tak berarti mengingatkan kita bahwa bumi bekerja dan memberi peringatan bukan hanya melalui peristiwa besar seperti bencana yang mambawa penderitaan dan airmata, tetapi juga lewat partikel-partikel ringan yang menari di udara. Mereka menari sambil menuturkan „nazam nasehat kehidupan“, membagikan nutrisi dan menyebarkan harapan.
Mungkin di situlah letak keindahannya: bahwa kehidupan, seperti debu, adalah kumpulan unsur-unsur kecil yang—apabila dipahami dengan penuh hormat dapat membuka cara baru dalam melihat dunia: lebih lembut, lebih sadar, lebih bijaksana. *
Penulis, Dosen Teologie pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.










