Fakta yang terjadi di Nagekeo bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan runtuhnya moralitas publik. Ketika lembaga hukum, politik, dan ekonomi bersatu dalam korupsi, kekuasaan berubah menjadi alat penindasan.
Dalam pandangan Thucydides, peradaban yang membiarkan logika “yang kuat selalu benar”, cepat atau lama, pasti akan runtuh dari dalam karena kehilangan legitimasi moral. Jika kondisi “yang kuat selalu benar”, Nagekeo akan terus mengalami kemunduran. Kesejahteraan rakyat akan kian jauh.
Tiada Keseimbangan, Tiada Keadilan
Dialog Thucydides mengajarkan bahwa keadilan hanya bisa hidup bila ada keseimbangan kekuatan. Di Nagekeo, terjadi ketidakseimbangan total: antara rakyat miskin dan jejaring penguasa yang menyebabkan hukum tidak berfungsi sama sekali. Tanpa media independen, pendamping hukum yang jujur, dan tekanan publik, rakyat akan terus “menderita apa yang harus mereka alami.”
Kutipan Thucydides relevan untuk mengingatkan bahwa negara hukum tanpa moral adalah kekuasaan telanjang. Dalam kasus Waduk Lambo, terlihat bahwa hukum bisa diselewengkan untuk melindungi pelaku kejahatan bila: lembaga penegak hukum kehilangan integritas, elite politik berkolusi dengan pemodal dan rakyat kehilangan akses terhadap keadilan. Seperti Melos yang akhirnya dihancurkan Athena, rakyat Nagekeo berisiko “dihancurkan secara sosial dan ekonomi” bila negara membiarkan praktik semacam ini berlangsung.
Thucydides bukan sedang mengajarkan bahwa kekuasaan boleh sewenang-wenang. Ia sedang memperingatkan akibat logika kekuasaan tanpa nilai. Kisah Waduk Lambo mengingatkan kita bahwa sejarah terus berulang ketika kekuasaan tidak diawasi oleh moral dan hukum yang adil. “Yang kuat berbuat apa yang bisa mereka buat, yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung” bukanlah hukum alam, melainkan peringatan abadi agar kita tidak membiarkan keadilan ditaklukkan oleh kekuasaan.
Nagekeo tidak boleh membiarkan keadilan dirampas dan rakyatnya menderita! Anak muda Nagekeo bersama semua institusi agama harus bangkit melawan ketidakadilan dan mematahkan semua kekuatan mafia! *
Jurnalis, Penulis Buku dan Pendiri Oring Literasi Siloam Lembata.










