Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo) - FloresPos Net - Page 9

Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)

- Jurnalis

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Steph Tupeng Witin

Steph Tupeng Witin

Fakta yang terjadi di Nagekeo bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan runtuhnya moralitas publik. Ketika lembaga hukum, politik, dan ekonomi bersatu dalam korupsi, kekuasaan berubah menjadi alat penindasan.

Dalam pandangan Thucydides, peradaban yang membiarkan logika “yang kuat selalu benar”, cepat atau lama, pasti akan runtuh dari dalam karena kehilangan legitimasi moral. Jika kondisi “yang kuat selalu benar”, Nagekeo akan terus mengalami kemunduran. Kesejahteraan rakyat akan kian jauh.

Tiada Keseimbangan, Tiada Keadilan

Dialog Thucydides mengajarkan bahwa keadilan hanya bisa hidup bila ada keseimbangan kekuatan. Di Nagekeo, terjadi ketidakseimbangan total: antara rakyat miskin dan jejaring penguasa yang menyebabkan hukum tidak berfungsi sama sekali. Tanpa media independen, pendamping hukum yang jujur, dan tekanan publik, rakyat akan terus “menderita apa yang harus mereka alami.”

Baca Juga :  Bupati Nagekeo Minta Pelayanan Kesehatan yang Baik untuk Semua

Kutipan Thucydides relevan untuk mengingatkan bahwa negara hukum tanpa moral adalah kekuasaan telanjang. Dalam kasus Waduk Lambo, terlihat bahwa hukum bisa diselewengkan untuk melindungi pelaku kejahatan bila: lembaga penegak hukum kehilangan integritas, elite politik berkolusi dengan pemodal dan rakyat kehilangan akses terhadap keadilan. Seperti Melos yang akhirnya dihancurkan Athena, rakyat Nagekeo berisiko “dihancurkan secara sosial dan ekonomi” bila negara membiarkan praktik semacam ini berlangsung.

Thucydides bukan sedang mengajarkan bahwa kekuasaan boleh sewenang-wenang. Ia sedang memperingatkan akibat logika kekuasaan tanpa nilai. Kisah Waduk Lambo mengingatkan kita bahwa sejarah terus berulang ketika kekuasaan tidak diawasi oleh moral dan hukum yang adil. “Yang kuat berbuat apa yang bisa mereka buat, yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung” bukanlah hukum alam, melainkan peringatan abadi agar kita tidak membiarkan keadilan ditaklukkan oleh kekuasaan.

Baca Juga :  Pemimpin “Berhati” Rakyat (Kepada Bupati Tote Badeoda dan Wabup Domi Mere)

Nagekeo tidak boleh membiarkan keadilan dirampas dan rakyatnya menderita!  Anak muda Nagekeo bersama semua institusi agama harus bangkit melawan ketidakadilan dan mematahkan semua kekuatan mafia! *

Jurnalis, Penulis Buku dan Pendiri Oring Literasi Siloam Lembata.

Berita Terkait

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)
Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo
Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis
Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia
Polemik, Kronologi 14 Bidang Tanah dan Terempasnya Dus Wedo
Mempertanyakan Posisi Moral Pater Mill (Catatan Sekenanya Saja untuk Tulisan di Media Luar Jangkauan)
Rakyat Nagekeo Harus Tolak Bungkam (Dukungan untuk Suku Redu, Isa dan Gaja)
Ketika Mafia “Merampok” Rezeki Warga di Waduk Lambo
Berita ini 5,281 kali dibaca
REDAKSI: "ORING" hadir setiap Senin dan Kamis dalam sepekan. Hanya di Florespos.net

Berita Terkait

Senin, 3 November 2025 - 18:05 WITA

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)

Kamis, 30 Oktober 2025 - 15:23 WITA

Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:55 WITA

Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 13:18 WITA

Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:55 WITA

Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Sabtu, 19 Sep 2026 - 11:05 WITA