Polres Nagekeo sejak era Kapolres AKBP Yudha Pranata memonopoli kebenaran. Berita tentang Waduk Lambo dan berbagai pelanggaran hukum yang melibatkan oknum polisi hanya boleh berasal dari Polres.
Di luar itu dinilai hoaks. Ada sejumlah oknum wartawan lokal yang masuk dalam kelompok mafia yang rutin mempublikasikan berita mereka. Mereka membentuk kelompok yang disebut Kaisar Hitam (KH) Destroyer.
Ketika orang lemah harus melawan orang kuat, orang lemah kalah. Yang menyedihkan, pihak yang kuat itu ada oknum polisi yang seharusnya menjadi pelindung rakyat lemah dan penegak keadilan. Siapakah orang kuat dan orang lemah itu?
“Orang kuat” di Nagekeo:
1. Oknum polisi yang seharusnya menegakkan hukum justru bersekutu dengan pelaku kejahatan.
2. Oknum pengacara yang seharusnya membela korban malah menjadi pemeras.
3. Oknum DPRD dan pengusaha memanfaatkan proyek negara untuk memperkaya diri.
4. “Tuan tanah dadakan” yang diciptakan oleh oknum polisi.
5. Oknum pejabat pemerintah yang menutup mata demi keuntungan politik atau finansial.
6. Mastermind orang kuat di Nagekeo ada di Jakarta yang diduga kuat punya kepentingan bisnis di Waduk Lambo.
Semua mereka membuat rakyat kecil yang kehilangan tanah dan haknya tidak memiliki tempat untuk bersuara. Mereka menjadi “Melos” dalam konteks Nagekeo.
“Orang lemah” di Nagekeo
1. Rakyat pemilik tanah yang sah kehilangan lahan tanpa ganti rugi yang adil.
2. Ketika mereka melapor, aparat tidak memproses karena para pelaku memiliki “jejaring kuasa”.
3. Hukum dan moral berubah menjadi alat untuk membungkam, bukan melindungi.
Bukti Kerja Mafia Lambo
Oknum polisi yang diduga kuat sangat terlibat dalam membuat kekacauan di waduk Lambo adalah mantan Kapolres Yudha Pranata dan Polisi Servulus Tegu yan kini menjabat sebagai Kabag Ops Polres Nagekeo. Dulu Tegu menjabat Kasat Intel yang menjadi penggerak mafia di lapangan dengan menciptakan konflik untuk mengadudomba warga.
Yudha dan Tegu ini didukung oleh sejumlah wartawan lokal yang tergabung dalam Kaisar Hitam (KH) Destroyer dan para “ATM berjalan” yang publik Nagekeo sudah lama tahu tapi hanya diam saja.
Ujung-ujung dari kehadiran dua oknum polisi ini adalah teror dan pemerasan. Banyak polisi yang masih baik dan bernurani di Polres Nagekeo yang tahu kelakuan dua oknum ini tapi memilih bungkam.
Banyak elite politik dan birokrasi Nagekeo juga tahu betul fakta ini tapi tidak mampu berbuat apa-apa. Kiblatnya: rakyat kecil khususnya warga terdampak terepresi dalam ketakutan dan teror gerombolan mafia waduk Lambo ini.










