Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
HARI ini, sejarah kecil dari kampung Waibalun kembali menorehkan jejak besar di panggung akademik nasional.
Dr. Dra. Maria Agustina Kleden, M.Sc, yang akrab disapa Ibu Intje Kleden, saudari kandung dari Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende, telah dikukuhkan sebagai Profesor di Universitas Nusa Cendana Kupang.
Sebuah pencapaian yang bukan hanya milik Beliau, tetapi juga milik seluruh ‘anak kampung’ yang percaya bahwa kesederhanaan bisa melahirkan keagungan.
Prof. Intje Kleden adalah sosok yang tidak pernah memburu sorotan, namun justru menjadi cahaya bagi banyak orang. Ia adalah Doktor Matematika perempuan pertama dari Kabupaten Flores Timur.
Bagi saya ini merupakan sebuah fakta yang tak hanya mencerminkan prestasi, tetapi juga keberanian untuk menembus batas-batas yang selama ini jarang melirik potensi perempuan dari kampung kecil. Dari Waibalun yang mungil, beliau melangkah pasti ke dunia ilmu pengetahuan dengan kalkulasi yang jernih dan hati yang penuh kerelaan.
Dalam setiap interaksi, Prof. Intje menunjukkan bahwa keilmuan tidak harus tampil dengan gemuruh, tetapi bisa hadir dalam kesenyapan yang penuh makna.
Ia adalah pribadi yang penuh perhitungan, namun tidak kehilangan kelembutan. Ia adalah pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghidupi nilai-nilai: kesederhanaan, ketekunan, dan cinta akan tanah kelahiran.
Prof. Intje Kleden hadir sebagai pemikir yang tajam, namun tetap rendah hati. Ia tidak hanya menyumbangkan ide, tetapi juga memberi diri. Ia turut pula menyediakan hadiah, bingkisan, dan semangat untuk kegiatan literasi di kampung halaman.
Pengukuhan beliau sebagai Profesor bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan penanda bahwa ilmu dan kampung bisa berjalan beriringan. Bahwa seorang perempuan dari Waibalun bisa menjadi simbol ketekunan akademik dan kepedulian sosial. Bahwa kesederhanaan bisa menjadi jalan menuju keagungan.
Dalam dunia yang sering mengagungkan pencapaian eksternal dan popularitas, Prof. Intje Kleden memilih jalan yang lebih sunyi namun bermakna: menjadi cahaya tanpa memburu sorotan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










