Gelassenheit, Phronesis, Transendensi Perempuan dan Narrative Identity (Menghormati Prof. Dr. Intje Kleden) - FloresPos Net - Page 2

Gelassenheit, Phronesis, Transendensi Perempuan dan Narrative Identity (Menghormati Prof. Dr. Intje Kleden)

- Jurnalis

Senin, 11 Agustus 2025 - 15:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ini mengingatkan kita pada gagasan Martin Heidegger tentang Gelassenheit: Sikap membiarkan sesuatu hadir sebagaimana adanya, tanpa dominasi ego. Prof. Intje tidak memaksakan eksistensinya untuk diakui, tetapi justru diakui karena kehadirannya yang otentik dan memberi makna.

Lebih jauh, keberanian Beliau menembus batas-batas sosial dan geografis sebagai perempuan dari kampung kecil adalah perwujudan dari apa yang Simone de Beauvoir sebut sebagai transendensi perempuan.

Dalam The Second Sex, Beauvoir menekankan bahwa perempuan harus melampaui peran yang ditentukan oleh masyarakat dan menjadi subjek aktif dalam sejarah. Prof. Intje adalah contoh nyata dari transendensi itu. Ia tidak hanya hadir dalam dunia akademik, tetapi juga mengubah lanskapnya dengan kehadiran yang penuh makna.

Baca Juga :  Membumikan Keadilan: Membangun Sistem Politik yang Berpihak pada Rakyat

Sebagai seorang matematikawan, Prof. Intje menghidupi rasionalitas. Namun, yang membuatnya istimewa adalah bahwa kalkulasi jernih itu tidak dingin, melainkan berpadu dengan hati yang penuh kerelaan. Ini menggemakan gagasan Aristoteles tentang phronesis (kebijaksanaan praktis).

Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menekankan bahwa kebijaksanaan sejati bukan hanya soal pengetahuan, tetapi kemampuan untuk bertindak benar dalam situasi konkret. Prof. Intje tidak hanya tahu, tetapi juga bijak dalam memberi diri dan membangun komunitas.

Langkah Prof. Intje dari Waibalun ke dunia ilmu pengetahuan adalah bukti bahwa eksistensi yang berakar bisa menjangkau semesta. Ini sejalan dengan pemikiran Paul Ricoeur tentang narrative identity. Bahwasanya, identitas seseorang dibentuk oleh kisah hidupnya, dan kisah itu selalu terkait dengan tempat, waktu, dan relasi. Prof. Intje membawa Waibalun dalam dirinya, bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai sumber nilai dan arah.

Baca Juga :  Hari Bapak Nasional dan Turnamen Eltari Memorial Cup 2025

Selamat Prof. Dr. Intje Kleden. Tentu, penghormatan ini bukan hanya untuk gelar yang Ibu sandang, tetapi untuk nilai-nilai yang telah Ibu hidupi. Terima kasih telah menjadi inspirasi bagi kami yang percaya bahwa kampung bukan batas, melainkan titik awal untuk menjangkau dunia.*

Penulis, adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Berita ini 314 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA