Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural - FloresPos Net

Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polykarp Ulin Agan

Polykarp Ulin Agan

Oleh: Polykarp Ulin Agan

PERPECAHAN sosial jarang datang sebagai ledakan yang kasatmata. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka atau kerusuhan yang mengguncang ruang publik.

Sebaliknya, ia tumbuh perlahan, mengendap dalam keseharian—di antara mereka yang hidup dalam rasa aman dan mereka yang terus bergulat sekadar untuk bertahan.

Dalam novel Manchmal muss man sich entscheiden (Terkadang Orang Harus Mengambil Keputusan, 2026) karya Domenico Müllensiefen, perpecahan ini tidak dipaparkan sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai kenyataan hidup yang getir melalui sosok Sandra.

Sandra adalah representasi mereka yang tersisih dari sistem. Kehilangan suami, figur ayah bagi anaknya, stabilitas ekonomi, hingga hak asuh, ia hidup dalam ketidakpastian yang nyaris total.

Di tengah narasi besar masyarakat modern yang menjunjung tinggi kerja keras sebagai kunci keberhasilan, kisah Sandra justru membuka sisi lain yang lebih kelam: bahwa kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan keamanan hidup.

Di titik inilah perpecahan sosial menjadi nyata,—bukan sekadar selisih pendapatan, melainkan jurang dalam akses terhadap perlindungan, peluang, dan bahkan martabat.

Lebih jauh, novel ini juga mengungkap bagaimana kelompok pekerja “biasa”—buruh, sopir, pekerja kasar—kerap terpinggirkan dari wacana publik. Mereka menopang ekonomi, tetapi suaranya nyaris tak terdengar dalam pengambilan keputusan. Perpecahan sosial, dengan demikian, tidak hanya bersifat material, tetapi juga simbolik: tentang siapa yang terlihat dan siapa yang diabaikan.

Namun, retakan paling sunyi justru terjadi dalam batin individu. Ketika Sandra menerima pekerjaan tanpa mengetahui isi muatan yang ia bawa, ia tidak benar-benar sedang memilih.

Ia didorong oleh kebutuhan, oleh tanggung jawab sebagai ibu, dan oleh ketakutan akan masa depan. Dalam kondisi seperti ini, moralitas menjadi kemewahan: sesuatu yang sulit dijangkau ketika hidup berada di ambang.

Ketimpangan dan Dilema Kehidupan di NTT

Perpecahan sosial dalam konteks NTT kerap muncul dalam hal-hal yang tampak sepeleh. Masalah air bersih, misalnya, bukan sekadar soal kekurangan pasokan, melainkan terutama tentang keringat dan lelah perempuan serta anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilometer demi menadah setetes air, sebagai penopang kelangsungan hidup.

Baca Juga :  Ketimpangan yang Membunuh

Ketegangan sosial semakin mencolok, ketika masyarakat NTT dihadapkan pada kenyataan pahit, bahwa sumber daya semakin langkah dan diperebutkan. Ketika air menjadi sulit diakes, ketimpangan baru pun muncul, ditandai oleh luka keadilan yang kian dalam:

Karena minimnya layanan publik yang gagal memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, hanya masyarakat berduit lah yang dapat membeli air dengan harga mahal, baik dari mobil tangki maupun sumur bor swasta.

Kondisi seperti ini dapat berkembang menjadi dilema moral yang kompleks. Kelangkaan air bersih hanyalah salah satu contoh pemicu perpecahan sosial. Masalah utamanya terletak pada pendapatan yang terbatas di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Ketika pendapatan terbatas harus dibagi antara pangan, kesehatan, dan pendidikan, keluarga miskin sering dihadapkan pada pilihan-pilihan prioritas yang tidak mudah dan sarat kepedihan.

Laporan menunjukkan angka putus sekolah di daerah miskin cenderung lebih tinggi, terutama pada jenjang pendidikan menengah. Dalam banyak kasus, orang tua bukan mengabaikan pendidikan, melainkan terpaksa menundanya demi kelangsungan hidup sehari-hari. Pada titik ini, perpecahan sosial menjelma nyata sebagai ketidaksetaraan kesempatan yang terus diwariskan.

Warisan ketidaksetaraan kesempatan berkelindan erat dengan masalah gizi buruk dan stunting yang sama-sama memperburuk kualitas hidup masyarakat. Gizi buruk mempersiapkan lahan yang subur bagi kerentananan terhadap berbagai penyakit. Anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam situasi demikian sangat berisiko memiliki tingkat kecerdasan (IQ) serta prestasi belejar yang memprihatinkan.

Akibatnya, ketika mereka beranjak dewasa dan harus terjun ke dalam dunia kerja yang pernuh persaingan, mereka harus mengikhlaskan kesempatan kepada tenaga kerja dari luar daerah yang memiliki kapasitas dan kompetensi yang lebih mumpuni. Konflik sosial pun tidak jarang lahir dari kecurigaan dan prasangka sosial yang tidak sehat.

Migrasi, Pendidikan, dan Warisan Ketimpangan

Masalah tekanan ekonomi telah memantik „jiwa merantau“ pada sebagian besar masyarakat di berbagai wilayah NTT. Euforia mencari rezeki di luar daerah, bahkan hingga le mancanegara, menjadikan NTT sebagai salah satu kantong utama pekerja migran di Indonesia.

Baca Juga :  Human Trafficking, Retakan Moral Kolektif dan Tanggung Jawab Spiritual

Sayangnya, di balik euforia ini tersembunyi praktik perdagangan manusia yang sudah telanjur menjadi salah satu bentuk bisnis kemanusiaan yang paling kotor, karena mencederai harkat dan martabat manusia. Namanya bisnis, berbagai macam cara pun ditempuh, bahkan kalau harus melangkahi mayat sekali pun.

Banyak pekerja migran asal NTT terjebak dalam jaringan perekrutan ilegal. Tidak sedikit di antara mereka yang harus bekerja dalam kondisi yang jauh dari standar kemanusiaan yang layak.

Dalam situasi ini, pilihan menjadi pekerja migran bukan semata keputusan ekonomi, melainkan sebuah dilema moral yang kompleks. Laporan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia mencatat ratusan kasus kekerasan dan eksploitasi setiap tahun yang menimpa pekerja asal NTT.

Risiko tersebut tidak menyurutkan langkah banyak orang, karena bertahan di kampung halaman berarti menghadapi kemiskinan yang nyaris tanpa jalan keluar. Pada titik ini, perpecahan sosial semakin nyata sebagai sebuah sistem yang memaksa individu memilih di antara dua bentuk kerentanan yang sama-sama ekstrem.

Pendidikan yang rendah semakin memperkuat lingkaran kemiskinan di wilayah terpencil NTT. Keterbatasan infrastruktur pendidikan, distribusi guru, serta kualitas pembelajaran menyebabkan akses pendidikan tidak merata.

Dalam praktiknya, banyak anak harus membantu orang tua bekerja demi memenuhi kebutuhan harian, sehingga pendidikan menjadi prioritas kedua yang kerap terabaikan. Kondisi ini mencerminkan ketimpangan struktural yang terus berulang antar generasi dalam rentang waktu yang panjang.

Refleksi: Stabilitas sebagai Privilese

Sosok Sandra dalam karya Domenico Müllensiefen menjadi cermin yang memantulkan realitas yang lebih luas. Apa yang ia alami bukan hanya kisah individu, melainkan potret masyarakat yang terfragmentasi—di mana stabilitas menjadi privilese, bukan hak.

Perpecahan sosial, pada akhirnya, bukan sekadar angka statistik atau wacana akademik. Ia adalah pengalaman hidup yang nyata: diam, nyaris tak terlihat, tetapi terus mengalir dalam denyut kehidupan sehari-hari. Dan selama ketimpangan struktural tetap dibiarkan, retakan itu akan terus melebar—pelan, namun pasti. *

* Dr. Polykarp Ulin Agan, Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.

Berita Terkait

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Indonesia yang Sibuk, Tapi Kehilangan Kepedulian
Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:14 WITA

Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA