Kampanye Ende dan Pilihan untuk Tidak Bertanya - FloresPos Net

Kampanye Ende dan Pilihan untuk Tidak Bertanya

- Jurnalis

Sabtu, 26 Juli 2025 - 11:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

JUMAT pagi, 25 Juli 2025. Mentari baru saja menyentuh halaman Biara Suster SSpS Ende ketika dari sanalah meletus sebuah suara yang tak sekadar menggema, tetapi mengguncang nurani.

Di tempat itu, kampanye kemanusiaan dimulai. Bukan parade biasa. Bukan ritual yang usang. Tapi sebuah seruan moral yang membelah sunyi di jantung kota.

Di sana, Relawan Jaringan JPIC Flores Bagian Timur yang terdiri dari biarawan, biarawati, aktivis kategorial, Perempuan Lintas Agama, pemuda, dan pejabat pemerintah bersatu dalam satu gerakan: hentikan perdagangan manusia.

Mereka bergerak keliling Kota Ende, menyusuri jalanan bukan hanya dengan langkah kaki, tapi dengan tekad. Sebuah tekad untuk menggugah kesadaran kolektif yang lama tertidur.

Karena dari awal tahun hingga pertengahan Juli 2025, enam belas anak bangsa dipulangkan dalam peti. Pulang dalam diam. Tanpa pelukan. Tanpa keadilan. Kampanye ini adalah perlawanan terhadap kematian yang terlalu sering kita biarkan menjadi kebiasaan.

Di tengah kobaran aksi, suara Sr. Wilhelmina Kato, SSpS, muncul bagai pelita di tengah malam. “Perdagangan manusia adalah kejahatan yang sungguh sadis,” katanya penuh keteguhan. Ia bicara bukan tentang hukum semata, melainkan tentang luka terdalam umat manusia: martabat yang dirobek, tubuh yang dijual, jiwa yang disangkal.

Baca Juga :  Pasca Perubahan Warna, Aktivitas Gunung Kelimutu Naik dari Level Normal ke Level Waspada

Menurutnya, ini bukan sekadar respons musiman. Ini adalah panggilan eksistensial untuk memperkuat benteng masyarakat dari dalam: keluarga yang cerdas merantau, komunitas yang berani berkata tidak, dan generasi muda yang menolak dijadikan sarana dan alat komoditas.

Immanuel Kant, tokoh terkenal dalam filsafat manusia, menolak manusia dijadikan alat. Martabat bukan hak istimewa, melainkan hak bawaan. Maka saat ginjal manusia dikemas dalam kontainer seberat 35 ton dan siap dikirim ke Kamboja, dunia bukan hanya menyaksikan kekejian medis, melainkan puncak pengkhianatan terhadap nilai manusia itu sendiri.

Jean-Jacques Rousseau pernah menulis, “Manusia dilahirkan bebas, namun di mana-mana ia terbelenggu.” Belenggu itu bernama ketimpangan. Ia ada di Indonesia, juga di NTT. Ia menjelma dalam kemiskinan, minimnya perlindungan, dan budaya diam yang menjadikan anak-anak bangsa korban yang sah.

Sr. Wilhelmina menyuarakan tiga tuntutan mendesak kepada pemerintah daerah. Pertama, hadirkan regulasi nyata (Peraturan Bupati, Perda, dan Perdes) yang bukan untuk dipajang, tetapi untuk melindungi.

Kedua, perkuat gugus tugas anti-trafficking agar bukan menjadi simbol, melainkan pisau keadilan yang tajam dan menggigit. Ketiga, bangun kolaborasi lintas sektor, karena kejahatan ini terlalu kompleks untuk ditangani seorang diri.

Baca Juga :  “Janji Palsu di Tanah Suci”

Permintaan itu bukan teknokratis. Ia adalah seruan etis. Emmanuel Levinas menulis bahwa wajah orang lain adalah panggilan moral. Wajah para korban yang kini diam dalam peti telah berubah menjadi nyala api. Menyala untuk memanggil kita berhenti berdiam.

Gerakan seperti ini bukan sekadar langkah, tapi awal dari lompatan nurani. Jika tidak berlanjut, ia hanya menjadi gema yang hilang di tengah kesibukan yang lupa pada luka.

Untuk itu, hemat saya, kita butuh pendidikan yang membebaskan agar masyarakat akar rumput tahu cara membaca bahaya. Kita perlu sistem migrasi yang menjamin keselamatan bukan jebakan baru yang tak terlihat. Kita harus menggugat sindikat secara hukum, dan tanpa kompromi.

Karena jika kita gagal menjawab panggilan ini, kita bukan hanya membiarkan kejahatan terjadi. Kita menjadi sekutunya. Kita menjadi bagian dari diam yang membiarkan luka terus mengalir.

Hannah Arendt telah mengingatkan: kejahatan paling besar adalah kejahatan banal. Yang terjadi bukan karena kebencian, tapi karena kita memilih untuk tidak bertanya.*

Penulis, adalah Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Berita Terkait

Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?
Hindayana dan Kurikulum Keteladanan
Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila
Berita ini 162 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:49 WITA

Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:36 WITA

Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:05 WITA

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:05 WITA

Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17

Selasa, 9 Jun 2026 - 19:45 WITA

Nusa Bunga

Empat Jabatan Lowong, Pemkab Manggarai Timur Gelar Seleksi Terbuka

Selasa, 9 Jun 2026 - 16:36 WITA