Kontribusi Gereja Katolik Melestarikan Lingkungan Hidup Melalui Ensiklik Laudato Si - FloresPos Net

Kontribusi Gereja Katolik Melestarikan Lingkungan Hidup Melalui Ensiklik Laudato Si

- Jurnalis

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 13:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dariana Amul

LINGKUNGAN hidup merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik yang hidup maupun tak hidup yang memiliki hubungan timbal balik satu sama lain.

Manusia membutuhkan lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan lingkungan alam membutuhkan manusia untuk bisa menjaga dan merawatnya agar bisa bertumbuh dan berkembang baik.

Salah satu yang konkret adalah manusia mereboisasi hutan yang gundul. Timbal baliknya, lingkungan alam jauh dari tanah longsor karena ditopang pepohonan yang ditanam manusia.

Karenanya, dapat dipahami bahwa pola hidup manusia sangat mempengaruhi lingkungan hidup. Begitu pun sebaliknya, lingkungan mempengaruhi dan menunjang kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Lingkungan yang terawat dengan baik akan banyak memberikan manfaat dan hasil yang berlimpah bagi manusia dan mahluk hidup lain di bumi. Lingkungan memegang peran sangat penting bagi kehidupan mahluk di bumi.

Dikatakan demikian, karena bumi adalah tempat tinggal atau rumah bagi semua mahluk hidup dan semua kehidupan bergantung pada lingkungan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Salah satu yang menjadi kebutuhan dasar bagi mahluk hidup adalah air. Air merupakan hasil alam yang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup, baik manusia maupun hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Mahluk hidup tidak mampu bertahan untuk hidup lebih lama kalau air yang tersedia sangat berkurang.

Karena itu, sangat disayang kalau persediaan air mengalami kekurangan sehingga berdampak pada kesulitan untuk bertahan hidup bagi mahluk hidup. Kekurangan air menjadi masalah serius karena semua aktivitas dan juga kebutuhan manusia sangat bergantung pada air.

Baca Juga :  Membongkar Museum Kepongahan Parlemen

Krisis air merupakan masalah realita yang tengah dialami oleh sebagian besar masyarakat di NTT. Masalah krisis air ini ditandai dengan sulitnya mendapatkan air bersih bagi masyarakat untuk menunjang hidup, tumbuhan dan tanaman mengalami kekeringan serta gagal panen.

Masalah krisis ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu; pertama, faktor penebangan hutan secara liar. Seringkali masyarakat dengan mudah menebang hutan secara liar tanpa mempertimbangkan dampak lebih lanjut terhadap kehidupannya dan juga tumbuhan yang lain.

Kedua, faktor perilaku manusia yang tidak bermoral. Manusia seringkali melakukan suatu tindakan yang merugikan bumi tanpa mempertimbangkan nilai moral yang berlaku sehingga mereka sering menggunakan air secara boros dan membiarkan air terbuang sembarangan.

Ketiga, faktor sistem pemerintah. Dalam hal ini pemerintah seringkali menetapkan proyek pada musim panen sehingga berusaha untuk menunda datangnya hujan dengan cara manusiawi.

Keempat, faktor lingkungan yang ditunjukkan oleh musim kemarau berkepanjangan sehingga dapat mengurangi debit air.

Dari beberapa faktor di atas, dapat disimpulkan bahwa krisis air terjadi bukan semata-mata karena perubahan kondisi alam tetapi yang paling besar adalah karena faktor perilaku manusia yang tidak mampu menjaga, merawat dan melestarikan alam sebagai satu kesatuan.

Manusia hanya mampu memanfaatkan isi dari bumi ini tapi tidak mampu merawat dan melestarikannya.

Menanggapi situasi krisis ini Gereja Katolik hadir memberikan kontribusi untuk menyapa umatnya melalui ensiklik yang diterbitkan Paus Fransiskus, yaitu Laudato Si.

Baca Juga :  Catatan Reflektif 78 Tahun Indonesia Merdeka

Dalam ensiklik ini, Paus Fransiskus menjelaskan situasi bumi kita saat ini. Bahwa bumi kita saat ini menjerit karena berbagai kerusakan yang disebabkan oleh berbagai perilaku manusia yang tidak bermoral.

Paus Fransiskus melalui ensiklik ini, mengajak semua umat manusia untuk bisa mencintai dan mengasihi alam ini sebagai saudara dan rumah kita bersama. Sebagai rumah bersama, maka patutlah kita untuk menjaga dan melestarikan alam ini agar bisa menjadi rumah dan saudari yang aman untuk menopang hidup kita.

Paus Fransiskus hendak mengajak umat manusia untuk bertobat dari kesalahan yang dibuat selama ini dan mengajak umat untuk berdamai dengan bumi ini sebagai rumah kita bersama.

Manusia hanya diberikan tanggung jawab oleh Allah untuk mengolah dan melestarikannya dan bukan sebagai pemilik sehingga bebas untuk merusak alam ini.

Menjaga dan melestarikan alam merupakan bukti kepedulian manusia terhadap ciptaan Allah yang dipercayakan kepada mereka.

Kehadiran ensiklik ini sebagai bukti kontribusi gereja dalam menjaga, memelihara, merawat dan kelestarian lingkungan hidup yang ciptakan Allah.

Gereja Katolik tidak hanya hadir dalam bentuk seruan atau ajaran. Tapi Gereja Katolik dengan aktif mengambil bagian dalam usaha menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan hidup dengan tindakan nyata.

Gereja Katolik turut menjadi orang pertama melalui penanaman pohon seperti yang diprogramkan Gereja Keuskupan Ruteng pada tahun ekologi berkelanjutan 2023.

Artinya Gereja Katolik benar-benar menunjukkan sikap dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. *

Penulis: Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT

Berita Terkait

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Berita ini 506 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:25 WITA

Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:17 WITA

Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Lape Cup III, Merpati FC Towak Tembus Final

Sabtu, 1 Agu 2026 - 20:36 WITA