Oleh: Dr. RD.Rofinus Neto Wuli, S.Fil., M.Si (Han)
Pergi ke ladang memetik kenari
Kenari masak dibagi bersama
Natal datang membawa harmoni
Damai dan sukacita untuk bangsa tercinta.
SETIAP tahun kita merayakan Natal, momentum yang membawa sukacita dan harapan baru. Natal bukan hanya tentang tradisi, tetapi tentang datangnya Sang Juru Selamat ke dunia yang mengajarkan kita makna kasih dan pengorbanan. Melalui kelahiran Yesus Kristus, kita diajak untuk melihat arti sejati kepemimpinan—yaitu servant leadership .
Servant Leadership
Kepemimpinan yang melayani yang kemudian menginspirasi Robert K Greenleaf pada 1970. Greenleaf patut dijadikan grand theory karena pertama kali mengabstraksi (berteori) tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership).
Pada 1970, Greenleaf menulis sebuah esai berjudul “Servant as a Leader.” Sebagaimana dikutip Numberi dalam bukunya “Kepemimpinan Sepanjang Zaman” (2012: 192), Greenleaf menulis:
“Awalnya dimulai dari perasaan alami bahwa seseorang itu memiliki keinginan untuk melayani, jadi yang utama dan pertama adalah keinginan melayani. Lalu dari kesadaran akan pilihan membantu seseorang pada satu dorongan untuk memimpin.”
Greenleaf menekankan bahwa kualifikasi dari seorang pemimpin pertama-tama adalah kemauannya untuk melayani orang lain, bukan memerintah orang lain.Gagasan tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership) sudah berakar dalam sejarah sejak zaman dahulu kala.
Memang kepemimpinan ini diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf, namun diyakini telah diajarkan dan dihidupi oleh Yesus Kristus, pembawa ajaran kekristenan sejak awal masehi memperkenalkan tentang konsep ini, seperti ditulis secara eksplisit oleh Keen Blanchard & Renee Broadwel dalam buku “Servant Leadership in Action” (Blanchard & Broadwell, 2018: 1).
Sabda Yesus yang terkenal berkaitan langsung dengan Servant Leadership:
“Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Matius 20: 25-28).
Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, kita perlu mengingat bahwa pelayanan bukanlah sekadar pekerjaan, tetapi panggilan perutusan. Seperti yang dicontohkan oleh Yesus, Sang Guru Agung kita.
Panggilan perutusan dan pelayanan Yesus berpusat pada misi penyelamatan manusia, mewartakan Kerajaan Allah, dan memberikan teladan kasih melalui tindakan nyata. Yesus tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45).
Menurut Prof. AB Susanto dalam Bukunya “Handbook of Servant Leadership” , YESUS KRISTUS merupakan tokoh yang keseluruhan ucapan dan tindakan-Nya adalah ujud sang pemimpin yang melayani (Servant Leader).
Melalui peristiwa pembasuhan kaki (cfr. Bacaan Injil malam Kamis Putih ), metamorfora gembala-domba, perintah saling mencintai, dan terutama Firman-Nya, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” langsung menukik ke topik pemimpin-pelayan (Susanto, 2020: xxxiii-xxxiv).
Yesus Kristus merupakan satu satunya tokoh dunia yang seluruh hidup, ucapan dan tindakannya menghidupi servant leadership secara paripurna.
Dalam buku “Manajemen Konflik, Servant Leadership, & Damai Berkelanjutan” (Wuli, 2025: 176), saya menulis teori kepemimpinan pelayan (servant leadership) sebagai kepemimpinan yang menginspirasikan iman dan meneladankan pelayanan kemanusiaan yang berkekuatan pengampunan, saling percaya, empati, kerendahan hati dalam membantu orang berhasil baik secara profesional maupun individual.
Servant leadership merupakan kualitas kepemimpinan yang melayani dengan ikatan kuat yang saling berhubungan dari empat elemen utama yakni pengampunan (kelembutan, belarasa, memberdayakan), saling percaya (egaliter, kemitraan, partisipasi, integrasi), empati (mendengarkan, solidaritas, dialog/musyawarah), rendah hati (kasih yang melayani, persuasif, toleransi).
Motivasi Kepemimpinan Pelayan
Kata “motivasi” berasal dari kata bahasa Latin movere, yang berarti menggerakkan atau mendorong. Yesus, sebagai teladan, menggerakkan hati kita untuk melayani dan mengutamakan kepentingan orang lain.
Mari kita refleksikan bagaimana kelahiran-Nya menjadi pendorong bagi kita—para prajurit dan anggota TNI/POLRI—untuk senantiasa melayani masyarakat dengan tulus, presisi, dan penuh semangat Bela Negara dan CintaTanah Air di atas landasan Pancasila perekat persatuan dan kesatuan serta keutuhan dan kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kita hidup dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, beragam, plural dan multikultural (Bhineka Tunggal Ika), dalam terminologi Lemhannas RI: Bhineka Tunggal Ika Tanhanna Dharma Mangrva -Kita berbeda beda tapi tetap satu, tiada kebenaran yg mendua- , dengan tantangan yang tak terhitung.
Namun, dengan semangat dan motivasi yang kita peroleh dari hikmah sukacita Natal-kelahiran Yesus Kristus, kita bisa mendorong diri kita untuk terus maju. Setiap langkah yang kita ambil, setiap keputusan yang kita buat, adalah wujud dari dedikasi kita untuk melayani.
Mari kita ingat bahwa keberadaan kita di sini -di dunia Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Negara Republik Indonesia- bukan hanya untuk menegakkan hukum dan mempertahankan keutuhan-kedaulatan NKRI, tetapi untuk menjadi penyelamat, pengayom, dan pendengar bagi masyarakat yang membutuhkan.
Implementasinya bagi TNI-Polri Menjadi Institusi Pelayan Masyarakat
Pemimpin yang sejati adalah mereka yang mau berkorban dan melayani. Ini adalah spirit servant leadership yang harus kita bawa dalam setiap Langkah karya, pelayanan dan pengabdian kita.
Apakah itu dalam kiprah kita sebagai “rasul awam” yang terutus ke tengah tata dunia NKRI untuk menjadi semakin 100% Katolik 100% Indonesia, dalam melindungi, mengayomi, atau memberikan keadilan, semua harus didasari oleh hati yang penuh kasih, seperti juga ketika saat ini kita sebaga sesama anak bangsa se Tanah Air ikut terlibat penuh membantu sesama saudara kita di Sumater Utara, Sumatera Barat dan Aceh serta wilayah NKRI lainnya yang tertimpa musibah bencana alam tanah longsor dan banjir bandang.
Dalam terminologi Uskup TNI-POLRI (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI) bapak Prof.Dr.Ignatius Kardinal Suharyo: kita umat Katolik mesti: semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbelarasa.
Bersama-sama, mari kita jadikan momentum perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini sebagai titik tolak untuk menyegarkan semangat kita dalam melayani. Kiranya momentum Nataru ini “menyalakan kembali api kesadaran kita” dalam melayani mulai dari Keluarga, Gereja, Masyarakat, Bangsa, dan Negara tercinta.
Sukacita dan damai sejahtera bukan hanya perasaan batin,tetapi energi moral yang melahirkan: keluarga yang rukun dan kuat, prajurit yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual, serta aparatur negara yang siap mengabdi secara profesional dan berintegritas.
Keluarga yang damai akan melahirkan prajurit yang tenang.
Prajurit yang tenang akan melahirkan pengabdian yang tulus.
Dan pengabdian yang tulus akan memperkokoh ketahanan bangsa.
Selain itu, perayaan Nataru lintas agama ini juga menjadi perwujudan konkret Empat Konsensus Dasar Bangsa, yakni Pancasila yang meneguhkan iman kepada Tuhan dan persaudaraan kemanusiaan; UUD 1945, sebagai fondasi keadilan dan tanggung jawab negara; NKRI, yang kita jaga bersama tanpa kompromi, NKRI harga mati; dan Bhineka Tunggal Ika, yang hari ini kita hidupi.
Di sinilah TNI dan Polri, hadir bukan hanya sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan, tetapi juga sebagai perekat persatuan dan penjaga harmoni sosial bangsa untuk terus merajut keIndonesiaan kita. Dengan semangat “TNI Rakyat” dan “Polri Presisi”, kedua institusi ini berkomitmen untuk menjadi pelayan masyarakat yang profesional dan humanis.
Mari kita kuatkan komitmen untuk terus berinovasi, beradaptasi, dan memotivasi-menyemangati satu sama lain menjalankan tugas kita sebagai pelayan masyarakat. Kita adalah wajah Negara di tingkat akar rumput; oleh karena itu, mari kita pancarkan sukacita dan harapan kepada masyarakat.
Akhirnya, marilah kita kembali menginternalisasi semangat Natal dan menyebarkannya dalam tindakan nyata. Dengan sukacita dan motivasi dari kelahiran Yesus Kristus, mari kita satukan visi untuk Indonesia Maju yang lebih baik.
Satu cahaya lembut menyapa fajar Natal dan Tahun Baru, penuh harapan
Mari bersatu dalam pelayanan dan karya
Menuju Indonesia maju, penuh keadilan.*
Dr. RD.Rofinus Neto Wuli, S.Fil., M.Si(Han) adalah Ketua DPD IKAL-LEMHANNAS Provinsi NTT, Ketua Divisi Pastoral TNI-Polri KAE-NTT.










