Monetisasi Duka di Facebook Pro: Ketika Nurani Ditukar Bintang - FloresPos Net

Monetisasi Duka di Facebook Pro: Ketika Nurani Ditukar Bintang

- Jurnalis

Rabu, 2 Juli 2025 - 17:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marselus Natar

Marselus Natar

Oleh: Marselus Natar

Di era digital, semua orang kini punya panggung. Tak lagi dibatasi oleh kamera profesional, studio besar, atau modal berjuta-juta, setiap individu dengan ponsel di tangan bisa menjadi konten kreator. Melalui platform seperti Facebook Pro, yang menawarkan fitur monetisasi seperti “Bintang”, seseorang bisa mendapatkan penghasilan dari jumlah tayangan, interaksi, dan dukungan pengguna lainnya.

Namun, dalam laju yang begitu cepat menuju popularitas dan keuntungan, satu hal yang pelan-pelan tergerus adalah etika. Di tengah banjir informasi dan konten yang terus mengalir, kita kini menyaksikan fenomena menyedihkan: kesedihan, kematian, dan tragedi diubah menjadi ladang uang. Foto mayat yang terbujur kaku, tangisan keluarga yang kehilangan anak, atau suasana rumah duka direkam dan diunggah dengan judul mencolok, lengkap dengan ajakan “Dukung saya dengan mengirim Bintang”.

Saya pribadi merasa sangat risih melihat praktik ini. Ada yang terasa sangat tidak pantas, sangat tak manusiawi. Momen yang seharusnya sakral dan hening justru dijadikan panggung demi menghasilkan konten viral. Duka telah dikomodifikasi, dan yang paling menyakitkan adalah ketika tragedi orang lain dimanfaatkan tanpa rasa hormat sedikit pun.

Antara Informasi dan Eksploitasi

Ada yang perlu kita luruskan sejak awal: tidak semua konten duka itu salah. Ada kalanya, dokumentasi atas tragedi diperlukan — untuk pendidikan, untuk pengingat, untuk mendorong kepedulian sosial. Misalnya, dokumentasi bencana alam, kecelakaan besar, atau konflik sosial bisa menjadi penggerak kesadaran publik bila disampaikan dengan penuh empati dan etika.

Namun, berbeda halnya dengan konten yang dibungkus sensasionalisme. Di Facebook Pro, saya menjumpai video yang memperlihatkan seorang bocah tergeletak di jalan raya setelah kecelakaan, dengan wajah dan tubuh yang jelas terlihat, tanpa sensor, dan diakhiri dengan caption: “Jangan lupa dukung saya dengan Bintang agar bisa terus berbagi video menginspirasi seperti ini.” Saya termenung: bagian mana yang menginspirasi?

Eksploitasi semacam ini menanggalkan rasa hormat terhadap subjek dalam video. Ia tak lagi dilihat sebagai manusia dengan keluarga dan martabat, tetapi sebagai “materi mentah” untuk konten yang bisa diviralkan. Alih-alih menjadi jendela edukasi atau empati, video semacam itu justru menjadi cermin bagaimana empati telah digantikan algoritma, dan belas kasih ditukar dengan engagement.

Facebook Pro: Platform Kreatif yang Membutuhkan Kesadaran Etis

Baca Juga :  Menemukan Wajah Kristus dalam Dialektika Hukum di Sikka

Secara teknis, Facebook Pro adalah terobosan canggih yang mendemokratisasi media. Orang biasa bisa menghasilkan uang dari rumah, berbagi kreativitas, dan membangun komunitas yang luas. Kita melihat banyak konten positif lahir dari sana: guru yang mengajar daring, petani yang berbagi kiat bertani, pengrajin lokal yang memperkenalkan karyanya ke dunia luas.

Namun, seperti pisau bermata dua, platform ini juga bisa menjadi tempat yang sangat gelap bila digunakan tanpa kesadaran etis. Sistem monetisasi berbasis interaksi menumbuhkan budaya sensasi, di mana konten tragis lebih “menjual” dibanding konten edukatif. Algoritma tak peduli apakah video yang ditonton mempermalukan korban kecelakaan, selama angka interaksi tinggi — maka ia akan terus dipromosikan.

Sayangnya, tak semua pengguna memahami tanggung jawab moral yang menyertai popularitas. Dalam logika kapitalisme digital, yang penting adalah tampil, disukai, dan dibayar. Kualitas kemanusiaan tidak lagi menjadi parameter.

Maka dari itu, Facebook dan platform sejenis pun perlu lebih tegas dalam mengatur konten duka. Tidak cukup dengan algoritma otomatis, harus ada edukasi literasi digital dan etika publik yang dijalankan secara luas, terutama di tingkat akar rumput.

Mengembalikan Nurani ke Dunia Maya

Salah satu penyakit zaman ini adalah kelelahan empati. Kita terlalu sering terpapar tragedi sehingga menjadi kebal rasa. Tangisan menjadi tontonan harian, dan kematian menjadi hiburan murahan. Maka, bukan hal yang mengejutkan ketika ada orang yang menyaksikan video kecelakaan lalu mengklik “Like” dan “Share” sambil menulis komentar, “Innalillahi, jangan lupa follow akun ini untuk info menarik lainnya.”

Apa yang terjadi dengan nurani kita?

Media sosial tak lagi menjadi cermin realitas, tetapi permainan persepsi. Yang penting bukan kebenaran, tapi perhatian. Bukan empati, tapi eksistensi. Dalam lanskap semacam ini, tragedi orang lain menjadi komoditas paling menjanjikan. Semakin dramatis, semakin mengundang rasa iba — semakin besar peluang untuk viral dan menghasilkan uang.

Sebagai manusia, kita harus menarik garis tegas. Duka bukan panggung. Kematian bukan konten. Tangisan bukan bahan bakar algoritma. Di dunia yang semakin bising ini, yang paling kita rindukan adalah suara yang menenangkan — suara yang tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam demi menghormati rasa kehilangan.

Baca Juga :  Quo Vadis Kurikulum Merdeka Belajar dan Projek Profil Pelajar Pancasila: Menanti Kurikulum Baru Untung atau Buntung? (1)

Membangun Ekosistem Digital yang Beradab

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, edukasi etika bermedia sosial harus menjadi bagian dari literasi digital. Di sekolah, di komunitas, bahkan di keluarga, harus mulai diajarkan bahwa tidak semua yang bisa direkam harus diunggah. Tidak semua momen layak dibagikan, apalagi untuk keuntungan pribadi.

Kedua, konten kreator harus sadar bahwa mereka memegang pengaruh besar. Mereka bukan sekadar penyebar informasi, tapi penentu arah moral publik. Ketika seorang kreator mengunggah video duka dan mengaitkannya dengan monetisasi, ia sedang memberi pesan pada jutaan orang bahwa mengeksploitasi tragedi itu sah-sah saja, asal bisa menghasilkan uang.

Ketiga, publik sebagai penonton juga harus bijak. Jangan memberi panggung pada konten yang melanggar martabat manusia. Jangan biarkan tombol “Like” dan “Share” menjadi restu diam atas pelanggaran etika.

Dan terakhir, platform seperti Facebook harus bertanggung jawab secara moral dan sosial, bukan hanya bisnis. Moderasi konten duka harus lebih ketat. Dan kreator yang melanggar nilai kemanusiaan seharusnya tidak diberi insentif, tapi diberikan peringatan atau bahkan dibatasi.

Kita Masih Manusia, Bukan Algoritma

Teknologi boleh berkembang tanpa henti. Tapi sebagai manusia, kita harus tetap punya kompas moral. Jangan biarkan monetisasi menggerus nurani. Jangan biarkan tragedi dijadikan dagangan. Jangan biarkan wajah-wajah yang seharusnya kita doakan malah dijadikan thumbnail demi konten.

Saya percaya, ruang digital bisa menjadi ruang yang beradab. Tapi itu hanya bisa terjadi jika kita semua mau menjaga rasa — rasa malu, rasa empati, dan rasa hormat. Dunia maya tak harus menjadi dunia tanpa batas nurani. Ia bisa menjadi tempat yang adil, bila kita semua berhenti memuja sensasi dan mulai merawat kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukan jumlah “Bintang” yang kita kumpulkan, tetapi seberapa tulus kita merasakan duka orang lain — seolah duka itu adalah milik kita sendiri. *

Penulis Adalah: Rohaniawan Katolik pada kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis buku antologi cerpen dengan judul: Usaha Membunuh Tuhan. Anggota relawan JPIC SSpS Ende. HP: 081238721085  

Penulis : Marselus Natar

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 678 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Polemik “Pers Perut Kosong” Berakhir, Odorikus Minta Maaf

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:47 WITA

Nusa Bunga

Masih Banyak Pekerja di Sikka Mendapat Upah Tak Sesuai UMR

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:55 WITA