MAUMERE, FLORESPOS.net-Warga Etnis Tana Ai di Kampung Wairbou, Desa Watuomok dan Kampung Wailoke, Desa Udek Duen, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan etnis Tana Ai mulai melaksanakan ritual menanam padi dan jagung di kebun.
Ladang (Uma) merupakan kebun adat yang mana setelah tanam hingga pesta syukur panen (Pati Ea) di tahun pertama maka harus ditanam padi dan jagung selama 3 tahun berturut-turut.
“Ini kebun adat sehingga harus tiga tahun ditanam padi dan jagung di kebun ini,” sebut Maria Dua Lodan, warga Kampung Wairbou saat ditemui di kebun adat, Senin (23/12/2025).
Maria mengatakan, kebun dibersihkan dari rerumputan maka dibiarkan terlebih dahulu hingga musim hujan tiba baru dilaksanakan penanaman padi dan jagung.
Dia sebutkan, padi yang ditanam di kebun adat merupakan padi lokal dari jenis padi ladang yang sejak turun temurun ditanam warga Etnis Tana Ai.
“Jenis padi lokal lebih tahan terhadap kondisi iklim yang tidak menentu dan tahan hama penyakit. Padi ini juga bisa tahan lama disimpan selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Albinus Lase warga Wairbou lainnya menambahkan, saat penanaman padi warga Kampung Wairbou maupun Wailoke bergotong royong bekerja sehingga proses penanaman padi cepat selesai.
Binus sapaannya mengatakan, proses penanaman juga dilaksanakan saat cuaca sedang panas usai turun hujan sehingga setelah ditanam dan keesokan harinya turun hujan benih padi yang tercecer di luar lubang akan terbawa masuk ke dalam lubang.
“Penanaman menggunakan tugal dari kayu yang ujungnya diruncing guna membuat lubang di tanah. Benih padi dimasukan ke dalam lubang-lubang. Padi yang akan ditanam harus dibagi oleh Luka, orang yang khusus bertugas membagi benih padi,” terangnya.
Binus mengakui warga Etnis Tana Ai masih memegang teguh adat dan budaya termasuk proses menanam padi di kebun terutama di kebun adat yang mana semua prosesnya harus didahului dengan ritual adat oleh ketua adat.

Dia menegaskan, kebun adat wajib melaksanakan rangkaian ritual adat sedangkan kebun biasa tidak diwajibkan untuk menggelar ritual adat selama proses penanaman padi.
Ia mengakui saat ini kondisi cuaca sulit diprediksi termasuk musim hujan dan kapan dilaksanakan proses penanaman padi.
“Banyak warga juga sekarang sudah mulai menggunakan bahan-bahan kimia untuk mematikan rumput dan menggunakan pupuk kimia. Kalau dulu rumput dibersihkan dengan cangkul atau parang dan rumput dikeringkan untuk dijadikan pupuk dengan meletakkannya di sela -sela tanaman padi atau jagung,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










