Natal Sesudah Senja: Dari Allah Akbar ke Allah Akrab - FloresPos Net

Natal Sesudah Senja: Dari Allah Akbar ke Allah Akrab

- Jurnalis

Rabu, 17 Desember 2025 - 13:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus D. Atasoge

SEJAK awal Desember 2025, pusat-pusat perbelanjaan dan ruang-ruang publik mulai dihiasi dengan ornamen Natal. Pohon-pohon Natal berdiri anggun, seakan menyapa setiap insan Kristiani yang melintas atau sekadar memandang dari kejauhan: “Natal telah tiba, dan kini tengah mendandani hatimu untuk kembali ke masa dua ribu tahun silam.”

Namun Natal dua ribu tahun lalu bukanlah pesta cahaya dengan lampu berkilauan atau dekorasi mewah yang memanjakan mata. Natal itu lahir dalam kesunyian kandang sederhana, tanpa ornamen gemerlap, hanya ditemani kehangatan iman dan harapan.

Natal sesudah senja adalah panggilan untuk merasakan damai setelah penolakan demi penolakan yang dialami Yusuf dan Maria, ketika pintu-pintu penginapan tertutup rapat, dan senja kehidupan berpamitan dengan mentari yang menyengat.

Natal sesudah senja adalah Natal yang berpendar dalam kesederhanaan. Ia diterangi wajah malaikat yang bersinar, disambut gembala dengan pakaian lusuh dan aroma padang, serta ditemani cahaya bintang yang menuntun langit malam. Di dalamnya, aneka latar budaya, etnis, dan agama bertemu, saling memberi cahaya kehidupan sebagai modal membangun peradaban yang lebih manusiawi.

Merayakan Natal sesudah senja berarti membuka tangan persaudaraan bagi semua kalangan, dari tradisi iman yang berbeda, yang sama-sama menikmati sinar bintang di langit.

Natal adalah anugerah yang tercurah bagi seluruh umat manusia. Ia menjadi momen keakraban Allah yang Maha Akbar, yang rela turun ke dunia untuk mengakrabkan diri dengan manusia. Allah yang Akbar menjelma Allah yang Akrab.

Baca Juga :  Logistik Perintis Lumpuh, Program Strategis Nasional MBG dan KDMP Terancam Gagal

Natal sesudah senja mengakrabkan “aku” dan “engkau” yang berbeda. Ed Husain, dalam karyanya The Islamist, melukiskan pengalaman Natalnya dengan cara khas: “Hari kelahiranku, sebuah hari istimewa di rumah kami, bertepatan dengan hari Natal. Ibuku biasa mengajak kami melihat Santa Klaus setiap tahun setelah perayaan Natal di sekolah. Kami membuat manusia salju di kebun, lalu mengalunginya dengan syal ibu.”

Bagi Husain, Natal adalah jembatan yang meniadakan sekat antara “aku” dan “engkau”. Ia bercerita tentang persahabatan dengan para suster Katolik di Limehouse, tentang kebersamaan tanpa ketegangan, tanpa kebencian, meski berbeda iman.

Merenungkan kisah itu, saya teringat pada Tanah Lamaholot di Flores Timur. Di sana, saat Natal, umat Muslim kerap menjadi panitia bersama, menyiapkan segala sesuatu bagi saudara Kristiani.

Sebaliknya, ketika Idul Fitri tiba, umat Kristiani menjadi panitia halalbihalal, duduk bersama, makan bersama, bercengkrama dalam kehangatan. Di Lamaholot, perayaan agama adalah momen perekat keberagaman.

Dalam momen-momen seperti ini, para penganut agama belajar mengenal dan memahami satu sama lain. Mengikuti kerangka Philip Huggins, setiap perayaan lintas iman adalah kesempatan untuk mendengarkan, berbicara, dan belajar tentang perjuangan orang lain dalam menghidupi kebenaran tertinggi yang mereka yakini.

Persahabatan sejati tumbuh dari kesaling-akraban menuju Allah yang Akbar, meski melalui jalan yang berbeda. Persahabatan sejati mengarahkan setiap sahabat pada tujuan yang sama, dengan cara yang khas dan unik menurut masing-masing tradisi.

Baca Juga :  Ketika Pintu Tak Dijaga: Rumah Menjadi Gua, Anak Menjadi Mangsa

Kemanusiaan universal, kehendak baik, dan kepentingan bersama dapat membangun pemahaman serta keharmonisan. Kebersamaan yang berkelanjutan menepis prasangka, memupus stereotip, dan menjaga martabat kemanusiaan.

Kerja sama antaragama untuk perdamaian dan keadilan tidak berarti mengaburkan iman, melainkan memperdalamnya. Seorang Muslim menjadi semakin Muslim, seorang Kristiani semakin Kristiani, dan demikian seterusnya. Pluralitas dalam dialog antaragama justru meneguhkan kejelasan iman masing-masing.

Refleksi teologis tentang Natal bermuara pada satu titik: yang tak terbatas rela menjadi terbatas, yang Maha Tinggi rela turun ke dunia, yang tak berdosa rela menanggung dosa umat-Nya. Itulah Kristus. Natal berarti Kristus.

Di hari Natal, umat Kristiani merayakan kehadiran Kristus, bukan sekadar hari raya. Natal bukan industri, melainkan kristologi. Ia adalah saat Allah membuka diri, mengambil bagian dalam kehidupan manusia. Allah yang Akbar menjadi Allah yang Akrab.

Sesama manusia yang memiliki harkat dan martabat mulia, dipanggil untuk hidup dalam keakraban sejati. Di titik inilah, Natal adalah milik kita semua. Mari kita jadikan Natal tahun ini sebagai cahaya yang menyinari “aku” dan “engkau” yang berbeda, agar dunia merasakan damai yang lahir sesudah senja. *

Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berita Terkait

Kelompok Perempuan Petani Kelapa Desa Lambunga, Mandiri Ekonomi Berkat Mengolah Produk Turunan Kelapa
LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat
Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari
Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam
Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Sop Sapi Rasa Ayam (Diskusi Sekenanya)
English is Fun: Kolaborasi Hangat Rita English Club dan Cristo Re English Club dalam English Night
Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)
Berita ini 63 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:51 WITA

Kelompok Perempuan Petani Kelapa Desa Lambunga, Mandiri Ekonomi Berkat Mengolah Produk Turunan Kelapa

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:32 WITA

LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:49 WITA

Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari

Senin, 6 Juli 2026 - 12:14 WITA

Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:37 WITA

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Ngada Gelar Festival Komodo Riung di Desa Lengko Sambi Utara

Sabtu, 25 Jul 2026 - 19:38 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Mewaspadai Jalan yang Berujung Air Mata

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:46 WITA