Jika audit ini menemukan pelanggaran AMDAL atau kerusakan ekosistem yang tidak dapat diperbaiki, Pemerintah Provinsi wajib memberlakukan moratorium izin baru di kawasan resapan kritis.
Selain itu, perluasan program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di daerah aliran sungai (DAS) yang kritis harus diimplementasikan secara serius, bukan sekadar simbolis.
Program RHL ini harus disinergikan dengan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembalakan liar atau perusahaan yang lalai mengelola sisa penebangan, sebuah pendekatan yang sesuai dengan prinsip keadilan lingkungan yang menekankan tanggung jawab kolektif dan sanksi bagi perusak.
Terakhir, BNPB dan BPBD NTT harus didukung untuk mengintegrasikan data risiko bencana dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) secara digital dan terbuka, memastikan bahwa pembangunan infrastruktur vital seperti sekolah, rumah sakit, dan jalur evakuasi dibangun di zona aman dan tahan bencana.
Penguatan ketahanan bencana jangka panjang harus dimulai dari pendidikan, karena sekolah merupakan benteng utama untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.
Tiga pilar utama yang harus diterapkan di sekolah-sekolah di NTT meliputi: pendidikan bencana terintegrasi, di mana materi tentang kebencanaan (banjir, longsor, gempa) harus dimasukkan ke dalam mata pelajaran sains, geografi, dan pendidikan kewarganegaraan.
Siswa perlu memahami bukan hanya dampak bencana, tetapi juga akar masalahnya, yaitu hubungan manusia dan lingkungan, termasuk pentingnya hutan, bahaya pertambangan ilegal, dan mitigasi risiko di lingkungan sekitar.
Pilar kedua adalah simulasi dan latihan rutin (drill); sekolah wajib menyelenggarakan simulasi bencana (banjir bandang, longsor) secara berkala, minimal dua kali setahun. Latihan ini harus mencakup jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, dan peran setiap siswa dan guru dalam situasi darurat, yang menumbuhkan refleks cepat dan mengurangi kepanikan.
Pilar terakhir adalah pemberdayaan kearifan lokal; sekolah harus memasukkan dan menghormati pengetahuan lokal (local wisdom) masyarakat NTT yang telah teruji dalam beradaptasi dengan lingkungan.
Misalnya, mempelajari tanda-tanda alam tradisional akan datangnya hujan ekstrem atau praktik pengelolaan lahan berbasis konservasi yang diwariskan turun-temurun, memastikan bahwa ketahanan bencana tidak hanya mengandalkan teknologi modern, tetapi juga berakar pada budaya lokal.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










