Kasus Nagekeo adalah ujian nyata bagi komitmen reformasi itu. Jika Polda NTT dan Komite Reformasi Polri membiarkan Polres Nagekeo menangani kasus ini sendiri, berarti mereka menutup mata terhadap konflik kepentingan yang jelas-jelas ada di sana. Sudah waktunya penegakan hukum ditarik keluar dari pusaran mafia lokal.
Menjaga Martabat, Menyelamatkan Nagekeo
Sekali lagi saya katakana: saya menulis sebagai upaya untuk membersihkan waduk Lambo dari terjangan mafia sehingga menghambat proses pembangunan.
Presiden Jokowi dan Wapres Gibran telah datang mengunjungi waduk Lambo ini. Tapi kedua orang penting di negeri ini baru tahu setelah membaca semua tulisan saya selama ini tentang dugaan gerombolan mafia di waduk Lambo. Segala sesuatu ada waktunya. Pesta pora gerombolan mafia di bibir waduk Lambo akan terkuak semuanya.
Menulis tentang dugaan terjangan mafia di waduk Lambo merupakan panggilan kemanusiaan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Tanpa sekat dan dinding. Selama ini publik Nagekeo tahu tapi bungkam. Saya bukanlah satu-satunya yang menulis terkait terjangan mafia di waduk Lambo dan dugaan perampokan dan perampasan hak-hak rakyat kecil suku Redu, Gaja dan Isa.
Banyak jurnalis bernurani di Nagekeo yang telah menulis kasus waduk Lambo ini tapi sejak era kepemimpinan Kapolres Yudha Pranata dan Kasat Intel Servulus Tegu, jurnalis dan warga yang melawan pasti diteror dengan menggunakan institusi kepolisian Polres Nagekeo.
Yudha dan Tegu menggunakan wartawan piaraan KH Destroyer untuk memfitnah kerja profesional para jurnalis. Kebenaran seolah-olah hanya monopolisi wartawan piaraan KH Destroyer yang menebar kebohongan dan penyesatan untuk mencari makan. Bahkan teror dan kekerasan polisi itu berakibat sangat fatal: ada warga korban yang akhirnya meninggal dunia.
Saya kutip WhatsApp, dari seorang warga yang tinggal Nagekeo dan menjadi korban: “Kami sudah sangat lelah dengan perjuangan ini. Sejak awal kami menolak lokasi tapi setelah waduk dibangun, kami justru berjuang untuk hak-hak kami yang tak kunjung selesai pembayaran sampai saat ini, termasuk tanah ulayat yang masih berpolemik. Kami tidak punya siapa-siapa, kami tidak punya akses untuk melawan mereka-mereka yang menindas orang tua kami di Rendu Butowe. Terima kasih Pater, lewat penamu, semua kebusukan dan jaringan kejahatan di waduk Lambo terbongkar.”
Seorang warga Nagekeo di tanah rantau menulis, “Padre, terima kasih sudah melakukan hal terbaik yang tidak bisa kami lakukan. Apa pun yang terjadi, kebenaran yang berasal dari Tuhan akan hadir.”
Terakhir, saya hendak ingatkan para pengacara yang tampil gagah perkasa di portal abal-abal hendak membangun kesan “menakutkan” untuk membela yang menyuruhnya yang sesungguhnya kita duga sedang diguncang kepanikan yang dahsyat. Pengacara melakukan serangan yang berada jauh di luar batas dan wewenangnya.
Saya adalah Imam SVD yang terpanggil untuk bersuara atas berbagai ketimpangan yang terjadi di tanah Flores dan Lembata. Tudingan sebagai diberitakan media abal-abal itu sangat tidak mendasar dan jauh dari setitik kebenaran pun. Anda memangnya siapa? Saya katakan: anda tidak lebih bertanggung jawab dalam memberitahukan kepada publik tentang apa yang diberitakan.










