Padahal, Presiden Prabowo Subianto dengan tegas mengingatkan dalam Rapim TNI–Polri pada 30 Januari 2025: “Rakyatlah yang menggaji, melengkapi, dan memberi makan tentara serta polisi. Rakyat pula yang memberi kuasa kepada mereka untuk memegang monopoli senjata.”
Kata-kata Presiden bukan retorika kosong. Itu adalah fondasi moral bagi aparat negara: kekuasaan mereka bersumber dari rakyat, maka harus digunakan untuk melindungi rakyat, bukan meneror mereka.
Pernyataan Presiden Prabowo ini memang sangat jauh dari telinga, apalagi hati orang yang seluruh hidupnya total diabdikan dalam mafia waduk Lambo.
Bahkan Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit meminta maaf atas adanya surat Telegram Rahasia (TR) penyangkut pelarangan media untuk memberitakan keburukan polisi, khususnya tindakaan arogansi dan kekerasan dalam menangani perkara. Polisi tidak pernah boleh melarang media untuk menyoroti kinerja kepolisian.
“Jangan sampai ada perilaku yang tidak baik dan tidak pantas dilakukan lalu muncul di media massa. Sebab perilaku anggota di lapangan menjadi sorotan dan tetap diawasi. Maka dari itu jangan sampai ada perbuatan oknum yang merusak institusi Polri. Kapolri memberi arahan agar polisi harus berhati-hati saat di lapangan, semua anggota jangan pamer tindakan yang kebablasan, arogan dan tidak senonoh. Polri harus bisa memperbaiki diri, tampil tegas dan humanis. Polri butuh masukan, koreksi dari eksternal agar bisa memperbaiki kekurangan” (Tribun Medan, 7 April 2021).
Imbauan Kapolri ini sudah begitu lama tapi di Nagekeo, ada oknum yang menghadirkan wajah Polres Nagekeo sekadar sebagai teror ketakutan bagi rakyat pencari keadilan, apalagi bagi pengkritik kelakuan polisi yang hidupnya digaji keringat rakyat kecil yang sering jadi korban kriminalisasinya.
Institusi Polres Nagekeo dijadikan alat untuk melindungi dugaan gerakan mafianya. Para jurnalis diteror, warga pemilik tanah dikriminalisasi, semua dibuat tak berdaya hanya karena tidak paham makna kehadiran institusi Polres Nagekeo.
Rakyat Nagekeo tahu, banyak polisi di Polres Nagekeo yang masih sehat, baik dan memiliki hati nurani. Banyak polisi di Polres Nagekeo yang tidak suka kelakuan oknum polisi itu. Tapi mungkin itu kelompok minoritas yang memilih diam di hadapan kekuasaan.
Perang Propaganda
Laporan terhadap saya disebarkan lewat media yang tidak jelas kredibilitasnya, bukan melalui Florespos.net, tempat tulisan saya dimuat, melainkan lewat portal abal-abal yang bahkan tidak tercatat di Dewan Pers.
Ini praktik klasik propaganda di Kabupaten Nagekeo yang selama ini dihidupi gerombolan mafia waduk Lambo: menyerang kebenaran dengan informasi palsu, menciptakan kesan seolah pelaku adalah korban, dan sebaliknya. Hanya itu yang bisa gerombolan mafia waduk Lambo bisa lakukan.










