Oleh: Steph Tupeng Witin
KITA mesti mengapresiasi jalan kreatif yang digagas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka melalui Festival Jelajah Maumere (FJM) tahun 2025.
Saya melihat festival ini tidak sekadar melarutkan diri dalam gebyar promosi pariwisata yang dangkal: mendatangkan turis. Tapi sebuah upaya intelektual dengan kesadaran terjaga yang menarasikan kepekaan terhadap konteks lokal. Birokrasi dan politik kita di “Republik Sialan” (meminjam judul buku Uskup Maxi Regus) ini selalu diidentikkan dengan “pesta.” Lihat saja musim Pileg atau Pilkada. Rumah para kandidat itu jadi tempat “pesta.”
Raungan musik keras tidak kenal waktu. Mereka memfestivalkan goyangan privatnya di ruang media sosial. Bahkan orang-orang yang kehilangan urat malu ini menari-nari sampai ke ruang publik sekelas ruang sidang DPR RI. Risikonya fatal: publik marah lalu menjarah kecongkakannya.
Birokrasi dalam segala level menggelar festival dalam aneka tema. Rancangan beragam acara lebih mengarah pada nada “pesta.” Ruang untuk menggaungkan naluri tradisional di media sosial. Kadang ruang publik sekelas festival jadi arena menggebyarkan desakan naluriah.
Orang menunjukkan diri, jenis pakaian, gestur badan, riasan wajah, pameran kosmetik. Semua bermuara pada fulus. Festival sekadar menjadi ritus tahunan yang dangkal. Pejabat-pejabat sibuk berdandan agar bisa terekam dalam video. Siapa tahu banyak yang subscribe dan sekejap viral.
Gubernur, bupati, walikota bersama para wakilnya menyiapkan diri untuk tampil mengesankan. Baju dinasnya dijahit agak “sesak” biar terkesan ikuti arahan Presiden: efisiensi anggaran meski kementerian dan badan baru dibentuk untuk menampung perut kroni dan tim sukses melarat.
Meski saat debat publik tidak mengerti apalagi memahami “status quaestionis” dari pertanyaan yang diajukan. Asal jawab saja. Lebih tepat: jawab asal-asalan. Persis gatal di kepala tapi garukan tangannya nyasar ke pantat.
Festival Jelajah Maumere (FJM) mengajak segenap elemen rakyat Sikka, bahkan seluruh rakyat di Flores dan Lembata agar memuliakan kearifan lokal.
Tema yang diusung: Wini Ronan atau lumbung benih. Tema ini mengapresiasi kebudayaan Sikka yang tumbuh dari tradisi bertani dan berladang. Saat menyiapkan lahan pertanian dengan mencangkul, ada kearifan bekerja sama (Sako Seng), saat tanaman yang sedang tumbuh tapi diganggu hama pun ada ritusnya: Tu Teu di Kecamatan Paga dan Kecamatan Mego, Wotan Wurat di Kecamatan Hewokloang, mengusir tikus di Pulau Palue (Tu Dheu) dan di wilayah etnis Tana Ai bernama Pire Teu.
Saat masa panen, muncul tradisi syukur yang melahirkan tarian dan nyanyian, misalnya tarian Togo Pare, Tari Ga’I, Wadong dan lainnya. Tradisi bertani dan berladang ini melahirkan keyakinan tentang asal usul padi dari seorang manusia sebagaimana terungkap dalam cerita Dua Nalun Pare (Florespos.net 13/9/2025).
Penulis sangat tertarik dengan banyak narasi dalam dunia pertanian berladang yang dihidupi petan-petani sederhana di kampung-kampung khususnya di wilayah Lio yang ditulis Pater Piet Petu SVD yang lebih dikenal dengan nama “Sareng Orinbao”, nama yang ia adopsi dari marga orangtuanya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










