Tetapi perlahan tanpa kita sadari, kekuatan berdaya rusak masif dan berdaya hancur dahsyat merengsek masuk hingga ke kampung-kampung dan mengganggu “kenyamanan” benih dan bibit lokal.
Benih-benih transgenik yang diciptakan oleh kapitalis di laboratorium-laboratorium mahal bernafsu besar untuk menguasai benih dan bibit. Ada sebuah upaya yang didukung penuh pemerintah melalui kementerian pertanian untuk membunuh keberadaan benih dan bibit lokal.
Pemerintah republik ini telah menjadi perpanjangan tangan salah satu mesin kapitalisme yang mencakar langsung ke basis-basis lokal pedesaan dan kampung. Petani berhadapan dengan kekuatan global yang berdaya menenggelamkan sendi-sendi ketahanan pangan petani.
Benih-benih transgenik hadir dengan kampanye masif “kemurahan hati” untuk melipatgandakan produksi pangan. Janji kesejahteraan. Bahkan didukung dengan penyuluhan teknis di lapangan oleh aparat yang diberi makan oleh negara.
Petani yang tidak kritis, apalagi bermental instan, larut dalam bujuk rayu kapitalisme yang kaki tangannya adalah orang-orangnya sendiri yang kebetulan menjadi aparat negara. Ketika membaca laporan dan berupaya memahami makna Festival Jelajah Maumere (FJM).
Penulis teringat ada satu buku bagus dengan editor Melki Koli Baran yang diterbitkan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Larantuka yang didukung Yayasan TIFA. Buku berjudul “Pangan Lokal, Kembali ke Masa Depan” (2014) mendokumentasi kesaksian militansi petani di tanah Lamaholot Flores Timur yang berjuang melawan penetrasi benih transgenik melalui program pemerintah demi memuliakan dan mengabadikan benih dan bibit lokal yang sangat terancam keberadaannya.
Buku ini membuat saya teringat kepada mentor saya, Pater Petrus Nong Lewar SVD, pastor petani di tanah Lamaholot yang makan, minum, diskusi dan tidur bersama petani-petani di pondok kebun. Sebuah pastoral pertanian berbasis kekuatan lokal. Sebuah pastoral kreatif bersama rekan-rekan aktivis LSM dan segelintir aparat birokrasi yang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap dunia pertanian.
Pastor tua berambut putih ini sangat mencintai buku sehingga sangat terbuka dalam membangun diskursus dengan para petani sederhana. Pastor itu punya status sosial tinggi sehingga kadang-kadang bertindak arogan dan serba tahu, susah mendengarkan umat yang kecil dan kadang lupa untuk terus belajar hidup dari orang-orang sederhana.
Saya ingat, ketika berada di Jakarta, ia meminta saya membeli buku: Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban” (Kompas, 2006) yang berisi gagasan banyak pemikir seputar produk pertanian sebagai komoditi, pertanian sebagai tarian alam, dan sinergi revitalisasi pertanian melalui epistemologi dan ilmu budaya.
Pastor ini tidak hanya urus ritus altar saja tetapi menjadi dunia pertanian sebagai “altar” pengabdiannya yang konkret. Hal yang hingga sekarang terasa menjadi sesuatu yang asing bagi “rekan-rekan seperjalanannya” adalah terus belajar hidup dari orang kecil dan setiap hari ada waktu untuk membaca buku dan merefleksikannya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










