Buku besar dan panjang itu berjudul: “Tata Berladang Tradisional & Pengaruh Dominan Ibu Padi, Suku Lio” yang penulis terima langsung dari tangannya saat belajar di Ledalero. Sebuah buku yang membuktikan ziarah intelektual Sareng Orinbao menjelajah lekuk wilayah Lio di perbatasan barat Kabupaten Ende-Sikka.
Sebuah perjalanan kemanusiaan untuk menghargai kearifan lokal dan norman-norma adat. Semua terdokumentasi rapi dalam buku sehingga generasi yang hidup di era serba instan ini belajar untuk menghargai karya tulis yang lahir dari perjuangan keringat dan air mata.
Semua tradisi ini biasanya terjelma dalam narasi sastra lokal dengan syair-syair yang tidak hanya indah tapi memiliki makna yang “mendalam.” Sebuah momen untuk memerkaya khazanah kesusastraan lokal Sikka.
Kita bersyukur karena dari ladang dan kebun, orang-orang kecil dan sederhana yaitu petani-petani kita, mampu menghadirkan kebijaksanaan hidup yang mesti menginspirasi nurani gerombolan elite politik dan birokrasi dalam karya pengabdian kemanusiaan.
Tanah itu rahmat Tuhan yang keramat dan sakral. Tidak pernah ada syair dalam Sako Seng maupun ritus lain yang mengajak orang menjual tanah kepada investor untuk dijadikan area bangunan villa mewah.
Syair-syair itu merupakan ajakan kepada manusia untuk menghormati martabat tanah, merawat marwah tanah dan mewariskan keutuhan tanah kepada semua generasi. Kebijaksaaan lokal Sikka itu sesungguhnya merupakan perlawanan budaya terhadap bandang proyek pertambangan, terutama banjir proyek geothermal yang berdaya rusak masif dan permanen kepada kehidupan, khususnya keutuhan, martabat dan kesucian tanah.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sikka mesti mengundang petinggi birokrasi di level pusat, kabupaten dan terutama provinsi agar mengasah nuraninya dengan kebijaksanaan kearifan lokal Sikka agar tidak sekadar menjadi “suara titipan” dari para bandit tambang dan geothermal.
Lumbung benih (Wini Ronan) diniatkan untuk menggarisbawahi pentingnya isu ketersediaan pangan, khususnya pangan lokal. Sebuah upaya kreatif mengabadikan dan memuliakan benih dan bibit lokal yang sudah menghilang dari lumbung dan ladang-ladang petani kita.
Padahal benih dan bibit lokal itu telah teruji kualitasnya melintasi zaman sejak nenek moyang. Mutu benih dan bibit lokal itu telah teruji dalam pergulatannya dengan kemurnian tanah dan lintasan zaman dengan semua gelombang penyakit, virus dan hama.
Hampir tiap zaman menghadirkan virusnya tersendiri yang bergerak bagai rudal yang siap menghancurkan. Tapi benih dan bibit lokal tetap eksis. Bahkan ketika musim paceklik dan krisis moneter yang melanda seluruh dunia, terbukti benih dan bibit lokal membangun ketahanan pangan yang sangat kuat. Badai semodern apa pun tidak mampu meruntuhkan bangunan pangan lokal di kampung-kampung.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










