Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
PEMECATAN tidak hormat terhadap Kompol Cosmas Kaju Gae, seorang perwira Brimob asal Ngada, Flores, telah memicu gelombang solidaritas publik yang luar biasa. Lebih dari 34.000 tanda tangan terkumpul dalam petisi yang menolak keputusan tersebut.
Informasi ini dapat kita cermati di laman Change.org yang diinisiasi oleh Mercy Jasinta yang ditujukan kepada Kapolri, Komisi Kode Etik dan Profesi (KKEP) Polri, serta Pimpinan DPR RI, sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan terhadap Cosmas yang dinilai telah mengabdi dengan keberanian dan tanggung jawab.
Dalam narasi petisinya, Mercy menyebut Cosmas sebagai “pahlawan yang mengharumkan nama daerah dan keluarga besar,” serta menyoroti peran pentingnya dalam demonstrasi besar di Jakarta, di mana ia berada di garda terdepan menyelamatkan banyak orang, termasuk pejabat negara.
Ia mengakui bahwa insiden yang menewaskan pengemudi ojek online memang tragis. Namun, ia menilai bahwa sanksi pemecatan terlalu berat dan tidak sebanding dengan pengabdian panjang Cosmas.
Dari perspektif sosiologi, fenomena ini bukan sekadar respons terhadap tindakan institusional, melainkan ekspresi kolektif dari identitas komunal, rasa keadilan yang terlukai, dan harapan akan rekonstruksi relasi antara negara dan warga.
Dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan asal-usul, seperti di Flores, figur seperti Cosmas bukan hanya aparat negara, tetapi juga simbol keberhasilan sosial dan representasi lokal dalam struktur kekuasaan nasional.
Ketika ia dijatuhi sanksi PTDH karena insiden tragis yang menewaskan seorang pengemudi ojek online, masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai ancaman terhadap martabat kolektif mereka. Petisi yang digagas oleh Mercy Jasinta menjadi artikulasi dari rasa kehilangan dan ketidakadilan yang dirasakan oleh komunitas Ngada.
Solidaritas sosial muncul ketika individu merasa terhubung oleh nilai, pengalaman, atau tujuan bersama. Dalam kasus ini, solidaritas terhadap Cosmas bukanlah pembelaan buta, melainkan refleksi atas ketimpangan dalam perlakuan institusional terhadap figur publik yang berasal dari daerah.
Masyarakat Flores pada khususnya, yang kadang disinyalir berada di pinggiran narasi nasional, melihat dalam diri Cosmas harapan akan keterwakilan dan pengakuan. Ketika harapan itu diruntuhkan secara sepihak, reaksi sosial pun muncul sebagai bentuk perlawanan simbolik.
Petisi rakyat juga menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena baru bagi demokratisasi suara. Platform seperti Change.org memungkinkan masyarakat kecil dari Laja, Ngada, untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada Kapolri dan DPR RI. Ini adalah bentuk partisipasi politik yang melampaui prosedur formal, mengandalkan emosi kolektif dan narasi lokal sebagai kekuatan advokasi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










