Retorika di Podium, Novanto di Jalanan - FloresPos Net - Page 3

Retorika di Podium, Novanto di Jalanan

- Jurnalis

Senin, 25 Agustus 2025 - 12:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marselus Natar

Marselus Natar

Setya Novanto mungkin sudah bebas bersyarat, tetapi namanya akan tetap tercatat sebagai simbol kegagalan moral politik kita. Ia akan dikenang seperti lingkaran hitam dalam sejarah, tanda bahwa bangsa ini pernah membiarkan seorang koruptor kembali menikmati kebebasan tanpa penebusan moral yang setimpal.

Dan ketika pemerintah hari ini tidak mampu menunjukkan langkah nyata dalam memperbaiki sistem hukum dan pemberantasan korupsi, maka publik berhak bertanya: apakah semua janji itu hanya sekadar permainan lidah?

Ironi di Hari Kemerdekaan

Bahwa kebebasan bersyarat itu terjadi tepat pada 16 Agustus, satu hari jelang Hari Kemerdekaan, menambah ironi yang getir. Sementara rakyat kecil berjuang melawan harga kebutuhan pokok yang naik, berjuang membayar pajak bumi dan bangunan yang kian memberatkan, seorang koruptor justru merdeka lebih cepat. Apakah ini kemerdekaan yang dimaksudkan oleh para pendiri bangsa? Apakah keadilan sosial hanya berlaku bagi segelintir orang yang punya akses pada kekuasaan?

Baca Juga :  Festival Lamaholot, Identitas dan Kohesi Sosial

Momentum ini seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah. Bila janji politik benar-benar ingin ditegakkan, maka yang dibutuhkan adalah reformasi hukum yang menyentuh akar masalah.

Bukan sekadar pidato, bukan sekadar jargon, melainkan aksi nyata: memperkuat KPK, membangun sistem pengawasan yang ketat, dan memastikan tidak ada celah kompromi bagi koruptor. Tanpa itu, perayaan kemerdekaan hanyalah seremoni yang kehilangan makna, karena rakyat tidak merasakan keadilan yang sesungguhnya.

Lidah vs Tindakan

Kekuatan seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa keras suaranya di podium, melainkan dari seberapa konsisten tindakannya di lapangan. Lidah memang bisa menipu, tetapi tindakan tidak pernah bisa berdusta. Tindakan adalah bukti nyata yang bisa dilihat dan dirasakan rakyat. Maka, bagi pemerintah hari ini, khususnya Presiden Prabowo, pertaruhan sesungguhnya bukanlah pada retorika, melainkan pada konsistensi.

Apakah pemerintah benar-benar akan serius memberantas korupsi? Ataukah kasus Setya Novanto hanya satu dari sekian banyak bukti bahwa hukum di negeri ini masih tajam ke bawah, tumpul ke atas? Jika jawabannya adalah yang kedua, maka bangsa ini akan terus berada dalam lingkaran setan: janji besar diucapkan di podium, tetapi pengkhianatan berlangsung di jalanan.

Baca Juga :  Resistensi terhadap “Kejayaan Kebohongan” (Catatan Jelang Tahun 2026)

Pepatah “lidah tak bertulang” seharusnya menjadi peringatan keras bagi setiap pemimpin. Rakyat tidak butuh janji-janji manis yang mudah terucap tetapi sulit diwujudkan. Rakyat butuh tindakan nyata, konsistensi, dan keberanian untuk menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

Bebas bersyaratnya Setya Novanto menjadi ujian besar bagi kredibilitas pemerintah hari ini. Jika komitmen memberantas korupsi tidak lebih dari retorika, maka sejarah akan mencatatnya sebagai pengkhianatan terhadap janji-janji politik.

Pada akhirnya, lidah boleh tak bertulang, tetapi keadilan memiliki tulang yang keras—dan rakyat akan terus menagihnya. Retorika di podium mungkin bisa memukau sesaat, tetapi rakyat di jalanan tidak bisa ditipu selamanya.*

Berita Terkait

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?
Berita ini 191 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WITA

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:49 WITA

Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:36 WITA

Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

Berita Terbaru

Ekonomi

Meningkat Jumlah UMKM di Manggarai Barat

Senin, 15 Jun 2026 - 13:49 WITA