Retorika di Podium, Novanto di Jalanan - FloresPos Net - Page 2

Retorika di Podium, Novanto di Jalanan

- Jurnalis

Senin, 25 Agustus 2025 - 12:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marselus Natar

Marselus Natar

Janji dan Realitas

Janji politik sejatinya adalah kontrak moral antara pemimpin dan rakyat. Ketika seorang calon pemimpin mengucapkan janji, ia sebenarnya tengah mengikat dirinya pada ekspektasi publik.

Dalam demokrasi, janji bukan sekadar kata-kata, melainkan fondasi legitimasi kekuasaan. Sayangnya, terlalu sering janji itu berubah menjadi retorika kosong, karena lidah tak bertulang—mudah dilipat, mudah diarahkan sesuai kebutuhan.

Kasus bebas bersyarat Setya Novanto menegaskan persoalan klasik: hukum di negeri ini sering kali tidak berjalan lurus. Meskipun bebas bersyarat adalah hak setiap narapidana, tetap saja, pesan moral yang ditangkap rakyat berbeda.

Rakyat melihat betapa mudahnya seorang koruptor kelas kakap memperoleh keringanan, sementara orang kecil sering kali dihukum berat untuk kesalahan yang jauh lebih ringan. Kontras ini melukai rasa keadilan publik.

Sebagai contoh, betapa sering rakyat kecil dijebloskan ke penjara karena mencuri sekadar buah kakao, sandal jepit, atau ayam tetangga. Hukuman mereka jatuh tanpa ampun, padahal kerugian yang ditimbulkan tidak seberapa.

Baca Juga :  Kegilaan Korupsi Belum Selesai (sisip gagas untuk Prof. Mahfud MD)

Bandingkan dengan seorang koruptor yang merugikan negara triliunan rupiah, tetapi bisa menikmati fasilitas mewah di penjara, bahkan jalan-jalan keluar lapas dengan dalih “izin berobat”. Inilah ironi besar yang merusak kepercayaan publik terhadap sistem hukum.

Politik Gagasan atau Politik Simbol?

Ketika janji-janji anti-korupsi digaungkan, rakyat berharap bahwa pemerintahan benar-benar konsisten. Namun, fenomena seperti bebas bersyarat Novanto justru memperlihatkan betapa seringnya politik kita jatuh pada simbolisme belaka. Kata-kata digunakan untuk membangun citra, bukan untuk merealisasikan kebijakan yang konsisten.

Prabowo dalam pidato-pidatonya kerap menegaskan perlunya revolusi mental, disiplin, dan penegakan hukum yang kuat. Tetapi, tanpa tindakan nyata, retorika itu tidak lebih dari simbol politik. Politik simbol semacam ini mungkin mampu mencuri perhatian sesaat, tetapi lambat laun akan kehilangan daya ketika rakyat semakin sadar bahwa yang mereka butuhkan adalah bukti, bukan janji.

Baca Juga :  Mungkinkah Demokrasi Deliberatif dalam Kasus RS Pratama Solor

Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin keluar dari jebakan simbolisme, maka langkah konkret diperlukan: memperkuat independensi KPK, memperketat syarat remisi bagi koruptor, dan menghentikan praktik kompromi politik yang melemahkan pemberantasan korupsi. Tanpa itu, janji antikorupsi akan terus terdengar sebagai slogan kosong.

Rakyat Tidak Pelupa

Kekuatan rakyat adalah daya ingat kolektif. Rakyat memang sabar, sering kali memilih diam, tetapi mereka tidak pelupa. Mereka mencatat janji, mengingat retorika, dan pada waktunya akan menuntut pertanggungjawaban. Inilah mengapa pepatah “lidah tak bertulang” begitu relevan. Pemimpin boleh lihai berjanji, tetapi sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa rakyat tidak pernah sepenuhnya lupa.

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 178 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Camat Bajawa Stephanus FH Dore, melakukan tendangan perdana Futsal SDK Regina Pacis Bajawa Vs SDI Waturutu, di lapangan Futsal SDI Waturutu,Selasa (28/4/2026).

Nusa Bunga

Gugus I Bajawa Gelar Porseni dan Sains

Kamis, 30 Apr 2026 - 11:30 WITA