Transisi Energi, Tapi Bukan Transisi Keadilan - FloresPos Net - Page 2

Transisi Energi, Tapi Bukan Transisi Keadilan

- Jurnalis

Sabtu, 12 Juli 2025 - 11:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pascual Semaun, SVD

Pascual Semaun, SVD

Pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat yang hidup bergantung pada alam adalah bentuk ketidakadilan ekologis dan sosial yang memperkuat struktur penindasan.

Penolakan masyarakat di Wae Sano, Poco Leok, Sokoria, dan Atadei terhadap proyek panas bumi bukanlah bentuk penolakan terhadap kemajuan atau teknologi.

Penolakan ini didasarkan pada tidak adanya pelibatan yang bermakna, tidak tersedianya informasi yang transparan, serta dampak langsung berupa kerusakan lingkungan, perampasan tanah adat, dan gangguan terhadap kehidupan sosial-budaya.

Narasi Resmi yang Menutup Realitas Warga

Pemerintah dan perusahaan sering mengklaim bahwa proyek panas bumi telah melalui kajian ilmiah, disertai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang lengkap, serta mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Baca Juga :  “Yang Sakral dan Yang Sosial”

Namun masyarakat yang hidup di sekitar wilayah proyek mengetahui bahwa klaim tersebut tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.

Tim teknis hanya datang dalam waktu singkat, tidak tinggal bersama warga, dan laporan yang dihasilkan tidak menggambarkan penderitaan dan kerusakan nyata yang dialami komunitas lokal.

Padahal, AMDAL seharusnya menjadi instrumen perlindungan lingkungan dan sosial, bukan sekadar formalitas administratif yang mengabaikan suara masyarakat terdampak. Ketika proses konsultasi tidak dilakukan secara mendalam, AMDAL kehilangan fungsinya sebagai alat pencegahan dan pengendalian risiko.

Baca Juga :  Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

Lebih dari itu, implementasi proyek dijalankan dengan pendekatan koersif: warga dikriminalisasi, diintimidasi, dipecah belah, dan bahkan dicap sebagai anti-pembangunan. Ini bukan dialog demokratis, melainkan tindakan represif yang bertentangan dengan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC).

FPIC adalah hak masyarakat adat dan komunitas lokal untuk menyatakan persetujuan atau penolakan secara bebas (tanpa paksaan atau tekanan), didahulukan (sebelum proyek dimulai), dan diinformasikan (berdasarkan informasi yang lengkap dan mudah dipahami).

Prinsip ini ditegaskan dalam United Nations Declaration on the Rights of Indigenouf Peoples (UNDRIP, 2007), namun sering kali diabaikan dalam pelaksanaan di lapangan.

Berita Terkait

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh
Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Berita ini 451 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:57 WITA

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Berita Terbaru

Bupati Manggarai Timur, AgasAndreas memukul gong pembukaan expo pendidikan,Selasa (28/4/2026).

Nusa Bunga

Bupati Agas Andreas Buka Expo Pendidikan V Manggarai Timur

Rabu, 29 Apr 2026 - 12:52 WITA

Opini

Tei Ra Ngoa: Kompas Moral dari Kampung di Zaman yang Riuh

Rabu, 29 Apr 2026 - 11:57 WITA

Nusa Bunga

Rutan Bajawa Rayakan HBP ke-62, Ini Pesan Panji

Rabu, 29 Apr 2026 - 11:26 WITA