Ketika ‘Laudato Si’ Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak? - FloresPos Net - Page 4

Ketika ‘Laudato Si’ Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak?

- Jurnalis

Rabu, 18 Juni 2025 - 15:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di sanalah, dalam konsistensi yang rendah hati namun gigih, hati Gereja yang sejati berpijak dan bersinar.
Untuk para pemegang otoritas gerejawi di Nusa Tenggara Timur, kemenangan dalam membatalkan satu proyek industri bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari ujian kredibilitas yang sesungguhnya.

Modal moral yang diraih dari perlawanan heroik di hadapan raksasa korporasi adalah aset yang sangat berharga sekaligus rapuh. Aset ini akan terkikis habis oleh inkonsistensi, sekecil apa pun itu. Sudah saatnya Gereja Flobamora melakukan transisi dari “moralitas oposisional”—yang mendefinisikan diri dari apa yang ditolaknya—menuju “moralitas testimonial”, yang identitasnya terpancar dari teladan hidup yang dipertontonkannya setiap hari.

Refleksi yang paling mendesak bukanlah lagi “bagaimana cara kita melawan mereka?”, melainkan “siapakah kita saat tidak ada lagi musuh bersama untuk dilawan, saat yang tersisa hanyalah cermin dan halaman rumah kita sendiri?” Sebab kemenangan atas geothermal akan menjadi kemenangan yang hampa jika dirayakan di tengah gunungan sampah yang tak terurus dan budaya konsumtif yang terus merusak bumi secara perlahan namun pasti.

Baca Juga :  Korupsi dan Ekonomi Biaya Tinggi

Oleh karena itu, panggilan profetis untuk Gereja di NTT saat ini adalah mengubah energi perlawanan menjadi energi penciptaan. Dunia tidak lagi hanya butuh teologi tentang kepedulian lingkungan; dunia butuh melihat paroki yang berhasil mengelola sampahnya menjadi berkah ekonomi, keuskupan yang menjadi pelopor energi surya di gedung-gedungnya, dan para gembala yang khotbahnya tentang keutuhan ciptaan terbukti dalam kebijakan pastoral yang nyata.

Baca Juga :  Tanah yang Menolak Dibungkam

Panggilan ini menuntut keberanian untuk keluar dari ruang rapat ber-AC dan turun ke lorong pasar yang becek, mengubah amarah moral menjadi program kerja yang terukur. Inilah ujiannya: jangan hanya menjadikan Laudato Si’ sebagai perisai untuk menolak, tetapi jadikanlah ia sebagai cangkul untuk berkarya.

Jangan hanya mengutip Laudato Si’, tetapi jadilah paragraf hidup dari ensiklik itu sendiri, yang dapat dibaca oleh seluruh dunia sebagai bukti bahwa di Flobamora, “Injil Ekologis” itu bukan hanya diwartakan, tetapi dihidupi. *

Penulis adalah Dosen Etika Bisnis pada LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 591 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA