Ketika ‘Laudato Si’ Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak? - FloresPos Net - Page 3

Ketika ‘Laudato Si’ Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak?

- Jurnalis

Rabu, 18 Juni 2025 - 15:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Untuk beberapa Kawasan di Flobamora masih menggunakan batu bara sebagai pembangkit listrik. Tambang batu bara di Kalimatan, Sumatera dan daerah lainnya juga merusak lingkungan di locus sumbernya.

Mengapa menolak geothermal tapi masih menikmati terangnya listrik berbasis batu bara? Dalam studi etika energi dan transisi yang adil (just transition), isu ini dikenal sebagai bagian dari tantangan “konsistensi konsumsi” dan integritas kelembagaan.

Ada isu investasi batu bara di level institusi gereja yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa inkonsistensi bisa terjadi di berbagai level, baik lokal (sampah) maupun nasional (investasi). Ini bukan tentang kesalahan individu, tetapi tentang tantangan sistemik bagi sebuah institusi besar untuk menyelaraskan seluruh bagian tubuhnya dengan hati nuraninya.

Menuju Ekologi yang Sungguh Integral–Dari Proyek ke Keseharian

Kekuatan moral gereja akan menjadi tak terbantahkan jika perjuangan makro (menolak proyek destruktif) diintegrasikan dengan gerakan mikro (mengubah kebiasaan sehari-hari). Inilah makna sesungguhnya dari “Ekologi Integral”.

Baca Juga :  Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ

Bayangkan jika setiap paroki menjadi pusat daur ulang dan edukasi lingkungan. Bayangkan jika khotbah tentang keutuhan ciptaan—sebuah panggilan yang berakar pada mandat mula-mula bagi manusia untuk “mengusahakan dan memelihara” Taman Eden (Kejadian 2:15)—dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih lingkungan bersama.

Tidak membuang puntung rokok karena itu bentuk pembangkangan kepada seruan Laudato Si. Ayo berjalan sambil memungut sampah dan dibuang serta diolah demi ekonomi yang berkelanjutan.

Moralitas gereja dalam isu geothermal akan berlipat ganda kekuatannya jika bisa berkata: “Kami menolak proyek Anda karena kami tahu cara merawat bumi, sebab tanah ini bukan milik kami untuk dieksploitasi, melainkan warisan yang dipercayakan Tuhan, di mana kita hanyalah ‘pendatang dan perantau’ (bdk. Imamat 25:23). Dan lihatlah, kami telah memulainya dari halaman kami sendiri…”

Kami tidak suka geothermal karena kami lebih cinta kepada energi dari sinar matahari dan angin yang selalu ada di sekitar kami, dan kami sudah memulai praktek baiknya dari paroki, dekenat hingga keuskupan dan wilayah yang lebih luas”. Gerakan seperti ini akan mematikan kritik tentang “ambiguitas” dan mengubah gereja dari sekadar penolak proyek menjadi teladan hidup ekologis.

Baca Juga :  Lilin-lilin Pelibas Dusta dan Salah Sangka

Penutup: Di Manakah Hati Gereja Berpijak?

Kembali ke pertanyaan judul. Jawabannya adalah: Hati Gereja yang sejati tidak berpihak pada satu isu tunggal, melainkan pada konsistensi iman dan perbuatan. Hatinya berpijak pada titik di mana seruan kenabian di hadapan istana bertemu dengan tangan pastoral yang memungut sampah di lorong desa.

Kemenangan sejati Laudato Si’ di Indonesia bukanlah saat satu proyek berhasil dibatalkan, melainkan saat setiap umat—dari uskup hingga anak sekolah minggu—menyadari bahwa merawat bumi bukanlah sebuah proyek musiman, melainkan sebuah cara hidup.

Berita Terkait

Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional
Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang
Berita ini 582 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:08 WITA

Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

Berita Terbaru