Untuk beberapa Kawasan di Flobamora masih menggunakan batu bara sebagai pembangkit listrik. Tambang batu bara di Kalimatan, Sumatera dan daerah lainnya juga merusak lingkungan di locus sumbernya.
Mengapa menolak geothermal tapi masih menikmati terangnya listrik berbasis batu bara? Dalam studi etika energi dan transisi yang adil (just transition), isu ini dikenal sebagai bagian dari tantangan “konsistensi konsumsi” dan integritas kelembagaan.
Ada isu investasi batu bara di level institusi gereja yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa inkonsistensi bisa terjadi di berbagai level, baik lokal (sampah) maupun nasional (investasi). Ini bukan tentang kesalahan individu, tetapi tentang tantangan sistemik bagi sebuah institusi besar untuk menyelaraskan seluruh bagian tubuhnya dengan hati nuraninya.
Menuju Ekologi yang Sungguh Integral–Dari Proyek ke Keseharian
Kekuatan moral gereja akan menjadi tak terbantahkan jika perjuangan makro (menolak proyek destruktif) diintegrasikan dengan gerakan mikro (mengubah kebiasaan sehari-hari). Inilah makna sesungguhnya dari “Ekologi Integral”.
Bayangkan jika setiap paroki menjadi pusat daur ulang dan edukasi lingkungan. Bayangkan jika khotbah tentang keutuhan ciptaan—sebuah panggilan yang berakar pada mandat mula-mula bagi manusia untuk “mengusahakan dan memelihara” Taman Eden (Kejadian 2:15)—dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih lingkungan bersama.
Tidak membuang puntung rokok karena itu bentuk pembangkangan kepada seruan Laudato Si. Ayo berjalan sambil memungut sampah dan dibuang serta diolah demi ekonomi yang berkelanjutan.
Moralitas gereja dalam isu geothermal akan berlipat ganda kekuatannya jika bisa berkata: “Kami menolak proyek Anda karena kami tahu cara merawat bumi, sebab tanah ini bukan milik kami untuk dieksploitasi, melainkan warisan yang dipercayakan Tuhan, di mana kita hanyalah ‘pendatang dan perantau’ (bdk. Imamat 25:23). Dan lihatlah, kami telah memulainya dari halaman kami sendiri…”
Kami tidak suka geothermal karena kami lebih cinta kepada energi dari sinar matahari dan angin yang selalu ada di sekitar kami, dan kami sudah memulai praktek baiknya dari paroki, dekenat hingga keuskupan dan wilayah yang lebih luas”. Gerakan seperti ini akan mematikan kritik tentang “ambiguitas” dan mengubah gereja dari sekadar penolak proyek menjadi teladan hidup ekologis.
Penutup: Di Manakah Hati Gereja Berpijak?
Kembali ke pertanyaan judul. Jawabannya adalah: Hati Gereja yang sejati tidak berpihak pada satu isu tunggal, melainkan pada konsistensi iman dan perbuatan. Hatinya berpijak pada titik di mana seruan kenabian di hadapan istana bertemu dengan tangan pastoral yang memungut sampah di lorong desa.
Kemenangan sejati Laudato Si’ di Indonesia bukanlah saat satu proyek berhasil dibatalkan, melainkan saat setiap umat—dari uskup hingga anak sekolah minggu—menyadari bahwa merawat bumi bukanlah sebuah proyek musiman, melainkan sebuah cara hidup.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










